Minggu, 14 November 2010

Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Akhlak

SEJARAH PERTUMBUHAN
DAN
PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan dan rahmatnya, sehingga kita dapat menikmati sebuah kehidupan yang sungguh penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Dan tak lupa sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw, yang telah membawa dunia dari zaman yang penuh kezaliman menuju zaman yang penuh dengan rahmat Allah SWT, yakni dengan ajaran Islam.
Kami sangat bersyukur, tugas makalah ini telah kami selesaikan dengan tepat waktu dan baik. Ada kalanya kami mengalami beberapa kendala untuk menyelesaikan tugas makalah ini, namun berkat bantuan doa, tenaga dan fasilitas dari orang-orang terdekat kami, akhirnya tugas ini dapat segera diselesaikan.
Ucapan terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada kedua orang tua kami, yang telah memberikan semua keperluan kami untuk menyelesaikan tugas ini. Yang kedua, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Dr. Muhammad Salik, M.Ag selaku dosen mata kuliah “Akhlak Tasawuf” yang telah membimbing kami untuk dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, yang tentunya tidaka dapat kami sampaikan satu-persatu.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberi inspirasi kepada para pembaca, sehingga dapat memperluas tsaqofah Islam.


Penyusun
Mojokerto, 22 Maret 2010


PEMBAHASAN

Ilmu akhlak yaitu ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia untuk dinilai apakah perbuatan tersebut tergolong terpuji, mulia, atau sebaliknya, yakni buruk, hina dan tercela. Selain itu dalam ilmu ini dibahas pula ukuran suatu kebahagiaan, keutamaan, kebijaksanaan, keindahan dan sebagainya.
Tapi, tahukah anda kapan persoalan-persoalan akhlak tersebut muncul? Siapakah tokoh-tokoh yang mengemukakan pembicaraan mengenai berbagai masalah akhlak tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan data-data dan fakta-fakta sejarah. Nantinya pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak akan dibahas melalui 2 pendekatan. Yakni melalui pendekatan kebangsaan dan religi.

A.Ilmu Akhlak di Luar Agama Islam (Kebangsaan)
1.Ilmu Akhlak (Moral) pada Bangsa Yunani
Munculnya pembahasan ilmu akhlak di bangsa Yunani ditandai dengan munculnya kaum Sophisticians (500-450 SM) yaitu orang-orang bijaksana (sufisem artinya orang-orang yang bijak).
Sebelum munculnya kaum tersebut, pembicaraan mengenai akhlak tidak dijumpai dalam bangsa Yunani, karena pada masa itu perhatian mereka tercurah pada penyelidikannya mengenai alam.
Dasar yang digunakan pemikir Yunani dalam membangun ilmu akhlak adalah pemikiran filsafat tentang manusia, atau pemikiran tentang manusia. Ini menunjukkan bahwa ilmu akhlak yang mereka bangun lebih bersifat filosofis, yaitu filsafat yang bertumpu pada kajian secara mendalam terhadap potensi kejiwaan yang terdapat dalam diri manusia atau bersifat anthroposentris, adan mengesankan bahwa masalah akhlak adalah sesuatu yang fitri, yang akan ada dengan adanya manusia sendiri dan hasil yang didapatnya adalah ilmu akhlak yang berdasar pada logika tanpa adanya aspek agama dalam pemikiran tersebut. Sehingga dihasil yang dicapai tidak dapat maksimal. Namun hasil pemikiran tersebut tidak sepenuhnya salah, karena manusia secara fitrah telah dibekali dengan potensi bertuhan, beragama dan cenderung kepada kebaikan, disamping itu juga memiliki kecenderungan kepada keburukan, dan ingkar pada Tuhan. Namun kecenderungan kepada yang baik, bertuhan dan beragama jauh lebih besar dibandingkan dengan kecenderungan kepada buruk.
Filosof Yunani pertama kali mengemukakan pemikiran di bidang akhlak adalah Socrates (469-399 SM). Socrates dianggap sebagai perintis ilmu akhlak di Yunani.
Golongan yang lahir setelah Socrates dan mengaku sebagai muridnya adalah Cynics dan Cyrenics. Golongan Cynics dibangun oleh Antithenes yang hidup pada tahun 444-370 SM. Ajaran ini sedikit berbeda dengan ajaran Socrates. Menurut golongan ini bahwa ketuhanan itu bersih dari segala kebutuhan, dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berperangai ketuhanan.
Pada tahap selanjutnya datanglah Plato (427-347 SM). Ia seorang filsafat Athena dan murid dari Socrates. Ia telah menulis beberapa buku. Di antaranya bukunya yang mengandung ajaran akhlak adalah Republik. Pandangannya dalam bidang akhlak berdasarkan pada teori contoh. Menurutnya bahwa apa yang terdapat pada yang lahiriah ini atau yang tampak ini hanya merupakan bayangan atau fotocopy.
Setelah Plato, datanglah Aristoteles (394-322 SM). Sebagai murid Plato, Aristoteles berupaya membangun suatu aliran yang khas dan para pengikutnya disebut dengan kaum Peripatetics, karena ia memberi pelajaran sambil berjalan, atau karena ia mengajar di tempata yang teduh. Dia berupaya menyelidiki akhlak (Moral) secara mendalam dan menuangkannya dalam bentuk karya tulis.
Aristotoles berpendapat bahwa tujuan akhir yang dikehendaki oleh manusia dari apa yang dilakukannya adalah bahagia atau kebahagiaan. Jalan untuk mencapai kebahagiaan ini adalah dengan mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya.

2.Ilmu Akhlak (Moral) pada Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa. Agama ini telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok-pokok ajaran akhlak yang tersebut dalam kitab Tauratdan Injil. Menurut agama ini bahwa Tuhan adalah sumber Akhlak. Tuhanlah yang menentukan dan membentuk patokan-patokan akhlak yang harus dipelihara dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tuhanlah yang menjelaskan arti baik dan buruk. Menurut agama ini bahwa yang disebut baik ialah perbuatan yang disukai Tuhan serta berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian ajaran akhlak pada agama Nasrani ini tampak bersifat teo-centri (memusat pada Tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Karena itu tidaklah mengherankan jika ajaran akhlak agama Nasrani yang dibawa oleh para pendeta berdasarkan ajaran dalam kitab Taurat.
Selain itu agama Nasrani menghendaki agar manusia berusaha sungguh-sungguh mensucikan roh yang terdapat pada dirinya dari perbuatan dosa, baik dalam bentuk pemikiran maupun perbuatan. Dengan demikian agama ini menjadikan roh sebagai kekuasaan yang dominan terhadap diri manusia, yaitu suatu kekuasaan yang dapat mengalahkan hawa nafsu syahwat.

3.Ilmu Akhlak pada Bangsa Romawi
Kehidupan masyarakat Eropa di abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu gereja berusaha memerangi filsafat Yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan ”hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan wahyu tentu benar adanya. Mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan dari gereja.
Dengan demikian ajaran akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan Yunani dan ajaran Nasrani. Ada 2 tokoh filosof yang terkenal pada masa itu yaitu abelard (1079-1142 M) berkebangsaan Perancis dan Thomas Aquinas (1226-1274 M) berkebangsaan Italy.

4.Ilmu Akhlak pada Bangsa Arab
Bangsa Arab mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan bangsa Yunani dan Romawi. Karena pada masa itu bangsa Arab memiliki ahli-ahli hikmah dn ahli syair. Di dalam kata-kata hikmah dan syair tersebut dapat dijumpai ajaran yang memerintahkan agar berbuat baik dan menjauhi suatu bentuk perbuatan yang mengarah kepada keburukan.
Adapun ahli-ahli hikmah yang termashur pada zaman itu adalah Luqmanul hakim, Aktsam bin Shaifi. Sedangkan ahli-ahli syair yang terkenal pada saat itu adalah Zuhair bin Abi Sulma dan Hakim al-Thai.

B.Akhlak Pada Agama Islam (Religi)
Akhlak adalah bagian dari syari’at Islam. Bagian dari perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya. Akhlak harus ada serta nampak pada diri setiap muslim, agar sempurna seluruh amal perbuatannya dengan Islam, dan sempurna pula dalam melaksanakan perintah-perintah Allah.
Agama Islam juga mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua ini terkandung dalam ajaran al-Qur’an yang diturunkan Allah dan ajaran sunnah yang didatangkan dari Nabi muhammad SAW.
Islam memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Ilmu Akhlak. Tokoh-tokoh ini tidak lain adalah Nabi-nabi yang tercatat dan diabadikan dalam kitab suci al-Qur’an.
1.Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim a.s. mempunyai sebutan sebagai Ayahnya semua nabi dan rasul, yang membawa dan menyebarkan ajaran tauhid kepada umat manusia. Ia adalah orang yang berani menanggung resiko dalam menghadapi kezaliman. Ia pernah menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan Raja Namruz dan para pengikutnya, sehingga ia dibakar hidup-hidup.
Resiko perjuangan ditanggung sendiri oleh Nabi Ibrahim sehingga menjadi teladan bagi istri dan pengikutnya. Keberanian Nabi Ibrahim a.s. memberantas ajaran kemusyrikan merupakan ssimbol penting dalam ajaran tauhid. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya pantang untuk berlaku syirik kepada Allah SWT.
2.Nabi Nuh a.s.
Ujian Nabi Nuh a.s. cukup berat karena ia harus menghadapi kekufuran anaknya sendiri, yaitu Kan’an. Ia tidak putus asa mengajak dan menasehati anaknya, meskipun akhirnya anaknya mati tenggelam terbawa arus banjir yang luar biasa. Kisah itu adalah teladan bagi kita sebagai orangtua, untuk terus membimbing anak, dan sebaliknya, anak yang membimbing orangtua agar bersama-sama masuk surga.
3.Nabi Luth a.s.
Nabi Luth a.s. menghadapi ujian yang sangat berat karena umatnya memiliki penyimpangan seksual. Homoseksual dan Lesbian dipraktikkan secara terang-terangan oleh masyarakat. Namun Nabi Luth tidak pernah bosan dalam mendakwahi masyarakat tersebut walaupun pada akhirnya umatnya mendapatkan azab dari Allah SWT berupa hujan batu dikarenakan kekeraskepalaan umatnya yang tidak mau mengikuti ajaran Nabi Luth a.s.
Sikap Nabi Luth a.s. yang pantang menyerah walaupun ajarannya tidak diindahkan oleh umatnya sepatutnya menjadi teladan bagi kita, bahwa setiap melakukan kebajikan pasti kita akan mendapatkan suatu halangan bahkan kadang kala halangan ini menjadikan kita putus asa. Untuk itulah sikap pantang menyerah harus kita galakkan agar kita dapat menjalankan kebajikan di dalam kondisi apapun.
4.Nabi Ayyub a.s.
Nabi Ayyub a.s. adalah nabi yang sangat sabar karena ia diberi penyakit kulit yang cukup lama. Istrinya pun merawat dengan sabar. Istrinya pernah menyarankan agar nabi Ayyub a.s. meminta kepada Allah SWT untuk mencabut penyakitnya, tetapi ia merasa malu karena kenikmatan yang telah diberikan yang telah diberikan oleh Allah SWT masih terlampau besar dibandingkan dengan penyakit yang dideritanya.
Kesabaran serta kesadaran nabi Ayyub yang luar biasa ini harus kita tiru dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sehingga nantinya kehidupan kita diselimuti oleh rasa tenang dan selalu bersyukur dalam situasi apapun.
5.Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. adalah seorang nabi yang sejak bayi telah dibuang oleh ibunya karena pada masa itu, jika ada seorang bayi laki-laki yang lahir, kemudian Fir’aun mengetahuinya, ia akan segera membunuhnya.
Singkat cerita akhirnya Nabi Musa a.s. menjadi anak angkat Fir’aun dikarenakan permintaan dari Istri Fir’aun untuk mengangkat anak yang ditemukannya menjadi anak angkatnya.
Sesungguhnya, akhlak Nabi Musa a.s. sangat penting untuk ditiru, bagi penguasa yang kuat hendaknya menjadikan kekuatannya untuk membasmi kemunkaran dan kemaksiatan, bukan sebaliknya, digunakan untuk mendirikan pusat-pusat kejahatan, pelacuran, dan pembela kezaliman.
6.Nabi Isa a.s.
Nabi Isa a.s. adalah nabi yang penuh rasa cinta kasih kepada umatnya. Keahliannya digunakan untuk mengobati orang-orang yang miskin. Hendaknya, akhlak Nabi Isa a.s. ditiru oleh para dokter dan ahli kesehatan, juga oleh orang-orang kaya untuk membantu ekonomi orang-orang fakir dan miskin.
7.Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir, beliau mengalami suka duka yang sangat banyak. Beliau sudah menjadi yatim-piatu sejak kecil. Akhlaknya sangat mulia dan dikagumi oleh semua orang, bahkan oleh orang kafir Quraisy dan mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang jujur dan terpecaya.
Nabi Muhammad SAW adalah penyebar kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Beliau sangat pemaaf meskipun kepada orang yang telah menyakitinya. Bahkan, beliau menengok orang yang setiap hari meludahinya. Beliau ditawari untuk meninggalkan dan mengingkari Allah SAW dengan harta yang berlimpah namun Nabi Muhammad SAW menolak mentah-mentah tawaran tersebut.
Akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai ayah dari anak-anaknya, suami dari istri-istrinya, komandan perang, mubaligh, imam, hakim, pedagang, petani, penggembala, dan sebagainya merupakan akhlak yang harus diteladani.
Dalam 100 tokoh yang tekemuka di dunia, Nabi Muhammad SAW menjadi/menduduki peringkat pertama, sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia. Beliau peletak dasar negara modern di Madinah yang merumuskan perjanjian yang adil ditengah-tengah masyarakat sukuistik dan pemeluk Yahudi dan Nasrani.

PENUTUP

Kesimpulan
1.Sejarah Ilmu Akhlak dapat ditinjau dari 2 pendekatan, yakni pendekatan kebangsaan dan religi. Sehingga dapat memperluas pengetahuan kita mengenai sejarah Ilmu Akhlak yang sangat sedikit diketahui oleh orang awam, bahkan oleh kalangan muslim sendiri.
2.Ilmu Akhlak ditinjau dari pendekatan kebangsaan berawal dari bangsa Yunani yang saat itu terkenal dengan filosof-filosofnya. Diperkirakan Socrates mulai mengkaji tentang permasalahan baik buruk (Ilmu Akhlak/Moral) pada tahun (500-450 SM) dan diteruskan oleh murid-muridnya seperti Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (394-322 SM). Pada bangsa ini hanya dibahas sedikit mengenai Ilmu Akhlak karena pada saat itu bangsa Yunani sibuk dengan filsafat alam, dan ajaran Ilmu Akhlak bersumber hanya pada pemikiran manusia sehingga terdapat banyak kelemahan. Kemudian diikuti oleh perkembangan Ilmu Akhlak di bangsa/agama Nasrani. Pada agama ini ajaran Ilmu Akhlak bersifat teo-sentri (memusat pada tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Didalam ajaran ini Ilmu Akhlak bersumber pada kitab Taurat sehingga baik dari buruk dapat dipilah-pilah berdasarkan isi Taurat. Namun ajaran ini memiliki kelemahan karena para pengikutnya suka menyakiti dirinya sendiri dan menjauhi dunia fana dan hidup menyendiri. Kemudian Ilmu Akhlak berkembang di bangsa Romawi (Abad Pertengahan). Ajaran Akhlak (Moral) pada masa ini adalah ajaran campuran dari ajaran Akhlak (Moral) agama Nasrani dan bangsa Yunani. Tokoh yang terkenal yakni Abelard (1079-1142) dan Thomas Aquinas (1226-1274). Ilmu Akhlak kemudian berkembang di bangsa Arab. Pada masa ini perkembangan Ilmu Akhlak memakai metode yang tidak biasa. Ilmu Akhlak disampaikan dalam kata-kata hikmah dan syair.
3.Ilmu Akhlak ditinjau dari pendekatan religi (Islam) di bawa oleh para nabi dan dikisahkan dalam Al-Qur’an. Namun sebagai contoh ada 7 orang nabi yang sangat patut dicontoh karena mencerminkan akhlak yang mulia, yakni Nabi Ibrahim a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Ayyub a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad SAW, yang kisahnya sudah dijelaskan sebelumnya. Ini tidak berarti bahwa Nabi yang lainnya tidak mempunyai akhlak mulia namun kami hanya memaparkan 7 contoh Nabi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 2002
Beni Ahmad Saebani dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung : Pustaka Setya. 2010.
Http://doelmith.wordpress.com/2009/03/01/mata-kuliah-akhlak-tasauf/
Taqiyuddin an Nabhani. Peraturan Hidup Dalam Islam. Bogor : Thariqul Izzah. 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Do not forget to give comment