Rabu, 10 November 2010

Sejarah Munculnya Ilmu Kalam

SEJARAH MUNCULNYA ILMU KALAM

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan dan rahmatnya, sehingga kita dapat menikmati sebuah kehidupan yang sungguh penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Dan tak lupa sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa dunia dari zaman yang penuh kezaliman menuju zaman yang penuh dengan rahmat Allah SWT, yakni dengan ajaran Islam. beserta keluarganya dan para sahabat serta umatnya yang senantiasa mendakwahkan Islam,.
Kami sangat bersyukur, tugas makalah ini telah kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Ada kalanya kami mengalami beberapa kendala untuk menyelesaikan tugas makalah ini terutama waktu, namun berkat bantuan doa, tenaga dan fasilitas dari orang-orang terdekat kami, akhirnya tugas ini dapat segera diselesaikan.
Ucapan terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada kedua orang tua kami, yang telah memberikan semua keperluan kami untuk menyelesaikan tugas ini. Yang kedua, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Bapak Dr. Muhammad Salik, M.Ag selaku dosen mata kuliah “Aqidah Ilmu Kalam” yang telah membimbing kami untuk dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, yang tentunya tidaka dapat kami sampaikan satu-persatu.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberi inspirasi kepada para pembaca, sehingga dapat memperluas tsaqofah Islam dan menjadi orang yang cerdas.

Penyusun
Mojokerto, 3 Oktober 2010

BAB I
PENDAHULUAN

a) Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak sekali kita jumpai fenomena-fenomena sensasional. Banyak yang mengaku Islam namun tidak mengetahui perkembangan ilmu dalam Islam, bahkan ada yang terkesan acuh terhadap ilmu Islam dikarenakan tidak menghasilkan profit/keuntungan. Pola fikir umat Islam yang terbawa oleh perkembangan zaman yang hanya memikirkan uang dan keuntungan (Duniawi) akan menciptakan kedzoliman yang besar bahkan berlarut-larut seperti sekarang ini.
Dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan salah satu ilmu yang mungkin bisa kita petik manfaatnya yakni ’Aqidah Ilmu kalam’. Yang kami konsentrasikan dalam pembahasan ”Sejarah Munculnya Ilmu Kalam”.
Kami mencoba melacak sejarah kemunculan dari ilmu kalam melalui sudut pandang tertentu. Sehingga akan memunculkan perbedaan dalam sejarah kemunculannya dan kita dapat memilah serta memilih perbedaan tersebut serta menentukan pendapat mana yang benar.
b) Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Ilmu Kalam?
2. Apa objek pembahasan dari Ilmu kalam?
3. Apa sajakah sumber-sumber Ilmu kalam?
4. Apa sebab-sebab munculnya Ilmu kalam?
5. Bagaimana sejarah kemunculan Ilmu kalam?
c) Tujuan
Dalam makalah ini kami mencoba menelisik sejarah kemunculan Ilmu kalam. Kami juga mencoba menyajikan proses munculnya Ilmu kalam dengan selengkap-lengkapnya. Disamping itu kami juga ingin memotivasi para pembaca untuk belajar mengenai Ilmu kalam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Nama dan Pengertian Ilmu Tauhid/Kalam
Secara harfiah kalam berarti perkataan. Sedangkan Ilmu Kalam sendiri dapat dipahami sebagai suatu kajian ilmiah yang berupaya untuk memahami keyakinan-keyakinan keagamaan dengan didasarkan pada argumentasi yang kokoh.
Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama. Nama-nama ini lahir dikarenakan pokok bahasan yang luas, jika dititik beratkan pada suatu permasalahan akan mengalami perubahan nama. Nama-nama tersebut antara lain; Ilmu Ushuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (ushuluddin), Ilmu Tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah SWT. Didalamnya dikaji pula tentang asma’ (nama-nama) dan af’al (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil dan ja’iz, bagi Rasul-Nya. Ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang cara menetapkan aqidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil-dalil itu merupakan dalil naqli, dalil aqli, ataupun dalil wijdani (perasaan halus). Secara Obyektif, Ilmu kalam sama dengan ilmu Tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu, sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dan ilmu tauhid. Ulama-ulama yang menyebut ilmu ini sebagai Ilmul Kalam dinamakan mutakallimin.
Adapun sebabnya dinamakan Ilmu Tauhid dengan Ilmul kalam, adalah :
a. Karena problema-problema yang diperselisihkan para ulama-ulama Islam dalam ilmu ini, yang menyebabkan ummat Islam terpecah dalam beberapa golongan, ialah masalah Kalam Allah yang kita bacakan, (Al-Qur’an), apakah dia makhluk diciptakan, atau qadim, bukan diciptakan.
b. Materi-materi ilmu ini adalah merupakan teori-teori (kalam) ; tak ada diantaranya yang diwujudkan ke dalam kenyataan atau diamalkan dengan anggota.
c. Ilmu ini, di dalam dia menerangkan cara atau jalan menetapkan dalil untuk pokok-pokok aqidah, serupa dengan ilmu mantiq. Karenanya dinamailah ilmu dengan nama maknanya dengan mantiq yaitu kalam.
d. Ulama-ulama muta-akhkhirin memperkatakan dalam ilmu ini masalah-masalah yang tidak dikelaskan oleh ulama salaf, seperti penta’wilan ayat-ayat mutasyabihah, pembahasan tentang pengertian qadla’, tentang kalam dan lain-lain. Karena itulah ilmu ini dinamakan dengan ilmu kalam. Ilmu kalam baru dikenal di masa ‘Abbasiyah’ sesudah terjadi banyak perdebatan, pertukaran fikiran dan bercampur masalah-masalah Tauhid dengan problema-problema falsafah, seperti “maddah (materi)”, susunan tubuh, hukum-hukum jauhar (zat), sifat dan lain-lain.

B. Sumber-sumber Ilmu Kalam
Adapun sumber-sumber ilmu kalam adalah sebagai berikut :
a. Al-Qur’an
Sebagai sumber ilmu kalam, Al-Qur’an banyak menyinggung hal yang berkaitan dengan masalah ketuhanan diantaranya adalah :
1. Q.S. Al-Ikhlas (112) : 3-4. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun didunia ini yang tampak sekutu (sejajar) dengan-Nya.
2. Q.S. Al-Furqan (25) : 59. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan maha penyayang bertahta di atas “Arsy”. Ia pencipta langit, bumi dan semua yang ada diantara keduanya.
3. Q.S. Al-fath (48) : 10. Ayat ini menjelaskan tuhan mempunyai “tangan” yang selalu berada di atas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah.
4. Q.S. Thaha (20) : 39. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan mempunyai “mata” yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
5. Q.S Asy-Syura (42) : 7. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan tidak menyerupai apapun yang ada didunia ini. Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
6. Q.S. Ar-Rahman (55) : 27. Ayat ini menjelaskan bahwa tuhan mempunyai “wajah” yang tidak akan rusak selama-lamanya.
7. Q.S. An-Nisa (4) : 125. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan menurunkan aturan berupa agama. Seseorang akan dikatakan telah melaksanakan aturan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah.
8. Q.S. Luqman (31) : 22. Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah disebut orang yang muhsin.
9. Q.S Ali Imron (3) : 83. Ayat ini menunjukkan bahwa tuhan adalah tempat kembali segala sesuatu baik secara terpaksa maupun secara sadar.
10. Q.S. Ali Imron (3) : 84-85. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan penunjuk jalan kepada para nabi.
11. Q.S Al-Anbiya (21) : 92. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dalam berbagai suku, ras atau etnis dan agama apapun adalah umat tuhan yang satu. Oleh sebab itu, semua ummat dalam kondisi dan situasi apapun, harus menyerahkan pengabdiannya hanya kepada-Nya.
12. Q.S Al-Hajj (22) : 78. Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin melakukan sesuatu kegiatan yang sungguh-sungguh akan dikatakan sebagai “jihad” kalau dilakukannya hanya karena Allah SWT. Semata.
Ayat-ayat di atas berkaitan dengan dzat, sifat, asma, perbuatan,tuntunan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Hanya saja, penjelasan rincinya tidak ditemukan. Oleh sebab itu, para ahli berbeda pendapat dalam menginterpretasikan rinciannya. Pembicaraannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan itu disistematisasikan yang pada gilirannya menjadi sebuah imu yang dikenal dengan ilmu kalam.
b. Hadits
Hadist nabi saw.pun banyakmenceritakan masalah-masalah yang dibahas ilmu kalam.di antaranya adalah hadits nabi yang menjelaskan hakikat keimanan:
حديث ابي هريرة ر.ع.قال:كان رسول ا لله ص.م.يوما بارزا للناس فاتاه رجل فقال:يا رسول ا لله, ماا لايمان الخ..........
Artinya:
“Diriwayatkan dari abu hurairah r.a katanya,’pada suatu hari,ketika rasulullah SAW.berada bersama kaum muslimln,datanglah seorang laki-laki kemudian bertanya kepada beliau,”wahai rasulllah,’apakah yang dimaksud dengan iman?’ rasulullah menjawab,’yaitu,kamu percaya kepada allah,para malaikat, semua kitab yang diturunkan,hari pertemuan denganNya hari kebangkitan para rasul.lelaki itu bertanya lagi wahai rasulullah apakah pula yang dimaksudkan dengan islam? Raslullah menjawab islam adalah mengabdikan diri kepada allah dan tidak menyekutukan-Nya denga perkara lain, dan dirikan shalat yang telah difardhukan,mengeluarkan zakat yang diwajikan dan berpuasa bulan ramadhan.kemudian lelaki itu bertanya lagi,: wahai rasulullah : apakah ihsan itu ? Rasulullah SAW menjawab: hendaklah engkau beribadah kepada allah seolah-olah engkau melihatnya.sekiranya engkau tidak melihatnya, ketahuilah bahwa dia senantiasa memperhatikanmu. Lelaki tersebut bertanya lagi wahai rasulullah, bilakah hari kiamat akan terjadi? Rasulullah menjawab ”aku tidak lebih tahu darimu tapi aku akan ceriakan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Apabila seorang hamba melahirkan majikannya, itu adalah sebagian dari tandanya. Apabila seorang miskin menjadi pemimpin masyarakat itu juga sebagian dari tandanya. Apabila masyarakat yang asalnya pengembala kambing mampu bersaing dalam mendirikan bangunan-bangunan mereka,itu juga akan tanda terjadi kiamat. Hanya lima perkara itu saja sebagian tanda-tanda yang kuketahui selain dari itu allah saja yang mengetahuinya.kemudian rasulullah SAW. Membaca surat lukman ayat 34. Sesungguhnya allah mengetahui bilakah akan terjadi hari kiamat, disamping itu dialah juga yang menurunkan hujan da mengetahui apa yang ada didalam rahim ibu yang mengandung. Tiada seorangpun yang mengetahui apakah yang diusahakannya pada keesokan hari, yaitu baik atau jahat dan tiada seorangpun yang mengetahui dimanakah dia akan menemui ajalnya. Sesungguhnya allah maha mengetahui lagi amat meliputi pengetahuannya. Kemudian lelaki tersebut beranak dari situ.rasulullah SAW terus bersabda kepada sahabatnya. panggil kembali orang itu lalu para sahabatpun ke arah lelaki tersebut dan memanggilnya kembali tetapi lelaki tersebut telah menghilang. Rasulullah SAW bersabda lelaki itu adalah jibril a.s. kedatangan adalah untuk mengajar manusia tentang adanya mereka.

c. Pemikiran Manusia
Pemikiran manusia dalam hal ini, baik berupa pemikiran umat islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat islam.
Sebelum filsafat yunani masuk dan berkembang didunia islam, umat islam sendiri telah menggunakan pemukiran rasionalnya untuk menjelaska hal-hal yang berkaitan ayat-ayat al-Qur’an, terutama yang belum jelas maksudnya (al-mutayabihat). Keharusa untuk mengenakan rasio ternyata mendapa pijakan dari beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya:

Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci (Qs.muhamad 47:24)
Adapun sumber ilmu kalam berupa pemikiran yang berasal dari luar islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori.pertama,pemikiran nonmuslim yang telah menjadi peradaban lalu ditransfer dan diasimilasikan dengan pemikiran umat islam.proses transfer dan asimilasi ini dapat dimaklumi karena sebelum islam masuk dan berkembang,dunia ara(timur tengah) adalah suatu wilayah tempat diturunkannya agama-agama safawi lainnya. Agama-agama itu beberapa kali diturunkan allah SWT. Didunia arab antara lain disebabkan masyarakatnya dikenal suka ingkal pada kebenaran dan suka berbuat hipokrit. Oleh sebab itu,secara kultural,mereka adalah orang-orang yang suka menyelewengkan kebenaran tuhan,sehingga sangat pantas kalau setiapkali terjadi penyelewengan selalu terjadidekradasi nilai-nilai kemanusiaan yang sangat menirukan.

4.Insting
Secara instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan adanya tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Abbas mahmoed al-akkad mengatakan bahwa keberadaan mitos merupakan asal- usul agama dikalangan orang-orang primitif. Tylor justru mengatakan bahwa animisme-angapan adanya kehidupan pada benda-benda mati merupakaN asal-usul kepercayaan adanya tuhan. Adapun sepencer mengatakan lain lagi. Ia mengatakan bahwa pemujaan terhadap nenek moyang merupakan bentuk ibadah yang paling tua. Keduanya menganggap bahwa animisme dan pemujaan terhadap nenek moyang sebagai asal-usul kepercayaan dan ibadah tertua terhadap Tuhan yang Maha Esa, lebih dilatar belakangi oleh adanya pengalaman setiap manusia yang suka mengalami mimpi.
Didalam mimpi, seseorang dapat bertemu,bercakap-cakap,bercengkrama,dan sebagainya orang lain, bahkan dengan orang yang telah mati sekalipun. Ketika seorang yang mimpi itu bangun, dirinya tetap berada ditempat semula. Kondisi telah membentuk intuisi bagi setiap orang yang telah bermimpi untuk meyakini bahwa apa yang telah dilakukannya dalam mimpi adalah perbuatan roh lain, yang pada masanya roh itu akan segera kembali dari pemujaan terhadap roh berkembang kepemujaan terhadap burung elang, burung matahari lalu lebih berkembang lagi pada pemujaan terhada benda-benda langit atau alam lainnya.
Abbas mahmoed al-akkad, pada bagian lain mengatakan bahwa sejak pemikiran pemujaan terhadap benda-benda alam berkembang, diwilayah-wilayah tertentu pemujaan terhadap benda-benda alam berkembang secara beragam. Dimesir, masyarakatnya memuja totemisme. Mereka mengangap suci terhadap burung elang, burung nasr, ibnu awa (anjing hutan), buaya, dan lain-lain. Anggapan itu lalu berkembang menjadi pemujaan terhadap mata hari. Dari sini berkembang lagi menjadi percaya adanya keabadian dan balasan bagi amal perbuatan yang baik.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adanya Tuhan secara ingstintif telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajar kalau william L Resee mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan yang dikenal dengan istilah teologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa telogi muncul dari sebuah mitos (thelogia was originally viewed as concern with myth) selanjutnya, teologi itu berkembang menjadi teolog natural (teologi alam)” revealed theology (teologi wahyu)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seara historis, ilmu kalam bersumber pada al-Qur’an, hadits, pemikiran manusia dan insting. Ilmu kalam adalah sebuah ilmu yang mempunyai objek tersendiri tersisitematisasikan, dan mempunyai metodelogi tersendiri dikatakan oleh mustofa abd. al razik bahwa ilmu bermula ditangan pemikir mu’tazilah, abu hasyim, dan kawannya imam al-hasan bin muhammad bin hanafiah. Adapun orang yang pertama membentangkan pemikiran kalam secara lebih baik dengan logikanya adalah imam al-asyari tokoh ahli sunnah waljama’ah melalui tulisan-tulisannya yang terkenal yaitu almakolad, dan al-kibanah, an ushul, at dianah.

C. Sejarah Kemunculan Ilmu Kalam
Munculnya ilmu kalam menurut Harun Nasution, dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dan persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap Islam.
Rasulullah SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk menyampaikan Islam kepada seluruh ummat manusia agar dijadikan sebagai aqidah dan pedoman hidup mereka dan memusnahkan aqidah dan pedoman hidup mereka sebelumnya yang penuh khayal dan khurafat, mereka diajak untuk berfikir dan merenungi realitas kehidupan, manusia dan alam semesta serta mengkaitkan ketiganya dengan Allah al Khalik al Mudabbir Sang Pencipta dan Sang Pengatur. Merekapun mengambil Islam sebagai aqidah yang mampu memecahkan permasalahan utama (al-uqdatul kubra) mereka sebagai manusia, yang diatasnya dibangun pandangan hidup, juga mengambilnya sebagai peraturan yang terpancar dari aqidah Islam.
Dengan izin Allah, agama yang dibawa oleh rasulullah pun diemban oleh banyak manusia sebagai qaidah fikriyah dan oleh Daulah Islamiyah sebagai qiyadah fikriyah. Sesuai dengan fitrahnya sebagai agama yang benar, tentunya agama ini terus bergerak dan diemban oleh daulah dan kaum muslimin untuk di da’wahkan kepada umat dan bangsa lain yang belum menemukan cahaya kebenaran Islam serta yang masih bergelut dengan khayalan dan khurafat dari pedoman hidup mereka terdahulu. Sunnah ini terus dilanjutkan para khalifah sesudah rasulullah wafat.
Kaum muslimin yang melakukan ekspansi da’wah dan futuhat di negeri-negeri yang belum menerima cahaya Islam, menemukan pemikiran asing yang diemban oleh orang-orang yang berada di negeri tersebut, yang hal itu sangat bertolak belakang dengan pemikiran Islam, hal ini terjadi pada awal abad kedua hijriyah.Negeri-negeri tersebut adalah India, Persia dan Yunani. Kaum muslimin kemudian berupaya untuk memahami konsep pemikiran mereka yang berbeda tersebut dengan maksud untuk menjelaskan kesalahan pemikiran mereka dan kemudian mengajak mereka untuk masuk ke dalam agama yang mulia ini. Pemikiran mereka yang asing inilah yang disebut dengan filsafat, yang kemudian dipelajari oleh ulama Islam dengan maksud membekali diri dengan ilmu tersebut untuk membantah dengan ilmu tersebut. Ilmu ini disebut dengan ilmu kalam, dan ulama yang mempelajarinya disebut dengan ulama mutakalimin.
Aktifitas ini sendiri telah dilakukan oleh rasulullah semasa hayat beliau terhadap orang-orang kafir baik dari kalangan kaum musyrikin maupun ahlul kitab, sehingga terjadi shiraul fikr, baik selama beliau berada di Madinah maupun di Makkah, hal ini dikuatkan dengan perintah untuk berdebat dengan mereka di dalam al Qur’an: “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (TQS. An-Nahl [16]:125); “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang paling baik.” (TQS. al-Ankabut [29]: 46).
Hal yang paling berperan dalam pemunculan ilmu kalam adalah interaksi kaum muslimin dengan filsafat Yunani baik melalui penterjemahan buku-buku filsafat Yunani maupun karena interaksi mereka dengan kaum Nasrani dan Yahudi, pemikiran filsafat ini diadopsi oleh kaum Nasrani (Nasrani sekte Nestorian atau Nasathirah dari Syiria, Nasrani sekte Mulkean yang tersebar di Afrika, Andalusia, dan sebagian besar wilayah Syam dan Nasrani sekte Jacobit dari Mesir) dan Yahudi. Filsafat Yunani yang diadopsi oleh kaum Nasrani dibangun untuk menguatkan aqidah trinitas mereka, yang hal itu memang sama sekali tidak memiliki kesesuaian dengan fakta yang ada. Berbeda dengan filsafat yang dianut oleh bangsa Persia dan India, dimana filsafat yang mereka bangun tersebut inheren dengan konsep agama yang mereka anut saat itu. Kaum Nasrani mengenal filsafat Yunani telah lebih dahulu ketimbang kaum muslimin yang kemudian digunakan untuk membangun konsep aqidah trinitas (tatslith) mereka. Konsep ini yang kemudian mereka gunakan untuk untuk berdebat dengan kaum muslimin. Sebagian kaum muslimin dengan para ulamanya merespon kondisi ini dengan mempelajari dan menjadikannya sebagai bahan diskusi dan perdebatan dalam rangka membantah kaum Nasrani dan Yahudi, membela Islam dan menerangkan pemikiran-pemikiran al-Quran. Kaum muslimin mengambil konsep filsafat Yunani sebagai pokok bahasan terutama dalam konsep ketuhanan (sifat-sifat Allah) dan mantiq (logika).
Para mutakallimin memiliki metode khusus dalam pembahasan, pengambilan keputusan dan penetapan dalil terhadap suatu masalah, yang berbeda dengan metode al-Quran, hadist, maupun perkataan sahabat. Juga berbeda dengan metode para filsuf Yunani. Para mutakalimmin tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, juga beriman dengan apa yang dibawa oleh rasul-Nya, dengan asas inlah mereka berargumentasi dengan dalil-dalil yang bersifat mantiqi serta memberikan akal kebebasan untuk membahas segala sesuatu. Kondisi ini yang menyebabkan ilmu kalam menjadi ilmu tersendiri di dalam khazanah peradaban Islam dan kemudian berkembang di negeri-negeri kaum muslimin. Hal ini terjadi pada akhir abad pertama hijriyah dan awal abad kedua hijriyah.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Ilmu kalam adalah suatu kajian ilmiah yang berupaya untuk memahami keyakinan-keyakinan keagamaan dengan didasarkan pada argumentasi yang kokoh. Ilmu kalam juga memiliki beberapa nama seperti ilmu Ushuluddin, ilmu Tauhid, fiqh al-akbar, dan teologi Islam. Ilmu kalam dan Tauhid adalah berbeda meskipun mempunyai beberapa persamaan. Para ulama ilmu kalam disebut mutakallimin.
2. Sumber-sumber ilmu Kalam ada 4, yakni ; 1. Al-Qur’an, 2. Hadits, 3. Pemikiran manusia dan 4. Insting.
3. Menurut sejarah, ilmu kalam baru berkembang pada masa Bani Abbasiyah. Ilmu ini lahir dikarenakan percampuran ilmu tauhid dan filsafat. Percampuran ini dikarenakan adanya penerjemahan kitab-kitab filsafat ke dalam bahasa Arab yang kemudian dipelajari oleh ulama-ulama mutakallimin sehingga lahirlah ilmu yang disebut ilmu kalam.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar Rosihon dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Bandung : CV. Pustaka Setia. 2010.
http://adhimgoblog.com/
http://elvingunawan.blog.friendster.com/
http://peziarah.wordpress.com/
T.M. Hasbi Ash Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Jakarta : PT. Bulan Bintang. 1990.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Do not forget to give comment