Nama : Hari Subagyo
NIM : D05209036
Ujian Tengah Semester
1. Ayat-Ayat Tentang Allah
a. Ayat-ayat keesaan Allah
Surat Al-Ikhlas 1-4
•
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Pendapat saya :
Allah memerintahkan manusia untuk mengumandangkan bahwa Allah-lah yang maha Esa dan tidak ada yang lebih dibandingkan Allah. Kemudian Allah menunjukkan keesaan-Nya dengan memberitahukan bahwa Allah adalah tuhan yang dimana sesuatu yang lain bergantung. Yang unik di surat ini juga dijelaskan bahwasannya Allah itu tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Surat Fushilat 9-12
• •
9. Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam".
10. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
11. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".
12. Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Pendapat saya :
Didalam surat ini Allah menunjukkan keesannya dengan menjelaskan proses terciptanya bumi dan langit serta alam semesta. Allah men jadikan alam semesta tak sampai hitungan minggu hanya hitungan hari saja. Dan kemudian Allah mempunyai kuasa atas segalanya termasuk langit dan bumi untuk mematuhi perintah Allah.
b. Ayat-ayat tentang Asma Allah
Al-Asher 1-3
•
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
c. Ayat-ayat tentang kekuasaan Allah
Surat Ar-Ruum 20-25
•• • • •
20. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
22. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui.
23. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).
Pendapat saya :
Allah menunjukkan kuasanya atas penciptaan manusia dan menjelaskan bahwa manusia tercipta dari tanah. Kemudian Allah memberikan manusia naluri untuk mencintai perempuan untuk dijadikan istri dan dapat menjadikan hati tenang. Allah juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan beragam, baik dari bahasa dan warna kulit. Dan Allah juga berkuasa atas tidur dan usaha manusia di bumi ini. Kemudia Allah menunjukkan kuasa-kuasa yang lainnya. Yang menarik dalam surat ini disampaikan pula secara implicit bahwa manusia hendaknya selalu berfikir dan menggunakan akalnya bukan menggunakan nafsunya.
2. Ayat-Ayat Tentang Manusia
a. Kelebihan Manusia
Surat At-Tin 1-6
•
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
2. Dan demi bukit Sinai[1588],
3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
[1587] yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli tafsir ialah tempat tinggal nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitun.
[1588] Bukit Sinai yaitu tempat nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Tuhannya.
Pendapat Saya :
Allah bersumpah dengan ciptaannya sendiri, hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Allah boleh bersumpah atas ciptaannya sendiri, namun manusia tidak boleh karena sesungguhnya manusia tidak mempunyai apa-apa dan tidak pantas untuk sombong. Allah menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling baik dibandingkan makhluk lain, Allah memberikan manusia nafsu dan akal serta diberikan wujud yang paling baik. Allah juga menjelaskan bahwa manusia itu sangat berpotensi untuk melakukan hal-hal yang buruk yang kewmudian dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka akan dikembalikan ke neraka. Namun, Allah memberikan pengecualian yaitu kepada manusia yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
Surat Al-Isra 70
70. Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.
[862] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.
Pendapat saya :
Allah memberikan perlakuan dan kelebihan-kelebihan yang istimewa kepada manusia. Allah memberikan seluruh kebutuhan manusia dibumi.
b. Kekurangan Manusia
Surat Hud 9-11
• • •
9. Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari kami, Kemudian rahmat itu kami cabut daripadanya, Pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.
10. Dan jika kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga,
11. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
Pendapat saya :
Manusia sangat berpotensi untuk kufur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Manusia juga sangat berpotensi untuk sombong. Manusia juga sanagat berpotensi untuk mengeluh. Dan dijelaskan pada ayat 11 bahwa orang yang sabar dan mengerjakan amal saleh, mereka akan mendapat ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu dan memperoleleh pahala yang besar.
Surat Al-Asher 1-3
•
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Pendapat Saya :
Allah bersumpah atas waktu atau zaman. Seluruh manusia itu didunia hanya akan merugi karena manusia itu akan melakukan kerusakan-kerusakan dibumi. Dan Allah menjelaskan bahwa yang selamat dari kerugian ini hanyalah orang yang beriman, amal saleh dan orang yang saling mengingatkan kepada kesabaran.
Surat Al-Isra 11, 67, 100
11. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.
• •
67. Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.
100. Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, Karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir.
Pendapat saya :
Manusia itu adalah makhluk yang ceroboh dan bepotensi untuk menjadi kufur dan senantiasa lebih mementingkan nafsu daripada akal. Manusia baru akan ingat kepada Allah ketika mereka ditimpa cobaan ketika diberi nikmat Manusia akan lupa kepada Allah. Manusia juga berpotensi untuk mencintai harta dan bendanya dan sangat berpotensi untuk kikir.
Surat Ma’arij 19-35
• • • • • •
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
22. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
23. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,
24. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,
25. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),
26. Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,
27. Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.
28. Karena Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).
29. Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,
30. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki[1512], Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada tercela.
31. Barangsiapa mencari yang di balik itu[1513], Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
32. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
33. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.
34. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.
35. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.
[1512] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[1513] Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya.
Pendapat saya :
Manusia itu memiliki potensi dasar untuk kikir dan kufur. Kemudian Allah menjelaskan criteria manusia yang akan masuk surga dan dimuliakan didalamnya.
3. Ayat-Ayat Tentang Alam
a. Penciptaan dan Pemeliharaan Alam
Surat Al-Araf 54-58
• • • • • •
54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy [548]. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549].
56. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
57. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu Telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah kami membangkitkan orang-orang yang Telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
58. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
[548] bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
Pendapat Saya :
Allah mencipatakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian menciptakan siang dan malam. Kemudian menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang dilangit. Kemudian Allah menjelaskan bahwa satu-satunya yang berhak menciptakan dan memerintah hanyalah Allah SWT. Allah mengajarkan hambanya adab berdoa yaitu dengan suara lembut dan meminta sesuatu dengan sewajarnya. Kemudian Allah menciptakan angin, hujan, awan mendung kemudian buah-buahan. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana
b. Penciptaan Alam Untuk Manusia
Surat Al-Baqarah 29
•
29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Pendapat Saya :
Allah menciptakan segala sesuatu yang ada dilangit dan bumi untuk dinikmati oleh manusia.
Surat Ibrahim 32-34
• •
32. Allah-lah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia Telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
33. Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan siang.
34. Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Pendapat saya :
Allah menciptakan langit dan bumi serta mernurunkan hujan dan memberikan reezeki untuk manusia, memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat mrenjelajahi lautan. Allah menciptakan matahari dan bulan dan juga siang dan malam. Allah telah memberikan manusia nikmat yang tidak terhitung kepada manusia.
c. Kerusakan Alam
Surat Ar-Ruum 41
••
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Pendapat saya :
Manusialah sendiri yang menciptakan kerusakan pada alam, bukan yang lain dan ketika kerusakan telah terjadi dibumi, Allah memberikan bencana bagi mereka bertujuan agar manusia dapat kembali untuk menjaga pemberian Allah.
4. Ayat-Ayat Tentang Pergaulan/Kemasyarakatan
a. Pergaulan Secara Umum
Surat Al-Hujurat 11-13
• • •• • •
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
[1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
Pendapat saya :
Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak mencela orang dan mencela sesame muslim. Allah juga memerintahkan untuk tidak memberi gelar jelek kepada siapapun. Allah juga memerintahkan agar kita tidak berprasangka (prasangka buruk) dan jangan mencari kesalahan-kesalahanorang lain, karena itu ibarat memakan daging saudaranya uyang sudah mati. Allah menciptakan beragam suku dan bangsa untuk saling mengenal bukan untuk saling membenci. Karena manusia yang paling mulia disisi Allah hanya dilihat dari tingkat ketaqwaannya bukan dari bentuk fisik maupun warna kulit suatu kaum.
Surat Ali Imron 104-105
•
104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.
105. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,
[217] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
Pendapat saya :
Allah menyuruh umatnya untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan, mencontohkan hal;-hal yang baik dan senantiasa mencegah dan mengingatkan saudaranya apabila melakukan hal-hal yang munkar.
b. Pergaulan Antar Muslim
Surat Al-Furqan 63, 67,72
•
62. Dan dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.
67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
72. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Pendapat saya :
Umat Islam selalu ditekankan agar selalu bersyukur atas semua yang diberikan Allah kepada kita. Kita diajarkan agar tidak kikir. Tidak menjadi saksi palsu dan senantiasa agar menjaga kehormatanya.
Surat Ali Imron 102
• •
102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
Pendapat saya :
Bahwa setiap orang yang beriman wajib bertaqwa kepada Allah dengan cara yang benar pula.
Surat Al-Hujurat 9-10
• •
9. Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
10. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Pendapat Saya :
Seorang muslim wajib mendamaikan sekelompok orang yang bertikai. Sehingga mereka kembali kepada perintah Allah. Sesungguhnya sesame muslim adalah saudara.
Surat An-Nisaa’ 59
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Pendapat Saya :
Orang Islam wajib menaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri yang tidak melanggar syariat Allah.
c. Pergaulan Dengan Non Muslim
Surat Al-Mumtahanah 8-9
•
8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
9. Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Pendapat Saya :
Sesungguhnya Allah melarang menjadikan orang dzalim untuk dijadikan teman/kawan. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka tetapi Allah meyukai orang yang berbuat adil.
Surat Ali Imron 28 dan 64
28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).
[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.
64. Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".
Pendapat Saya :
Seharusnya kaum muslim dan ahli kitab kembali kepada iman kepada Allah karena sesungguhnya tuhan kita adalah satu yaitu Allah SWT.
Surat Al-Kafirun 1-5
•
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Pendapat Saya :
Umat Islam dilarang bertoleransi kepada pengaut agama lain didalam rana aqidah. Namun diperbolehkan untuk saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.
5. Ayat-Ayat Tentang Ibadah
Surat Al-Baqarah 21
••
21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Pendapat saya :
Umat Islam wajib beribadah kepada Allah, sebagai wujud ketaqwaan kepada sang pencipta.
Surat Luqman 13, 17, 22
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
•
17. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
22. Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
Pendapat Saya :
Umat Islam diwajibkan bertaqwa kepada Allah untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada yang mungkar serta melarang untuk berbuat syirik dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Manusia
AYAT AYAT AL – QUR’AN TENTANG MANUSIA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan dan rahmatnya, sehingga kita dapat menikmati sebuah kehidupan yang sungguh penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Dan tak lupa sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa dunia dari zaman yang penuh kezaliman menuju zaman yang penuh dengan rahmat Allah SWT, yakni dengan ajaran Islam. beserta keluarganya dan para sahabat serta umatnya yang senantiasa mendakwahkan Islam,.
Kami sangat bersyukur, tugas makalah ini telah kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Ada kalanya kami mengalami beberapa kendala untuk menyelesaikan tugas makalah ini terutama waktu, namun berkat bantuan doa, tenaga dan fasilitas dari orang-orang terdekat kami, akhirnya tugas ini dapat segera diselesaikan.
Ucapan terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada kedua orang tua kami, yang telah memberikan semua keperluan kami untuk menyelesaikan tugas ini. Yang kedua, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dra. Liliek Channa, M.Ag selaku dosen mata kuliah “Tafsir” yang telah membimbing kami untuk dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, yang tentunya tidaka dapat kami sampaikan satu-persatu.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberi inspirasi kepada para pembaca, sehingga dapat memperluas tsaqofah Islam dan menjadi orang yang cerdas.
Penyusun
Mojokerto, 3 Oktober 2010
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN iii
a) Latar Belakang iii
b) Rumusan Masalah iii
c) Tujuan iii
BAB II PEMBAHASAN 1
A. Ayat-Ayat Mengenai Kelebihan Manusia 1
Surat At Tiin 1-8 1
Surat Al-Isra’ 70 7
B. Ayat-Ayat Mengenai Kelemahan Manusia 9
Surat Hud 9-11 9
Surat Al-Ashr 1-3 11
Surat Al-Isra’11 15
Surat Al-Isra’ 67 17
Surat Al-Ma’arij 19-21 22
Surat Al-Ma’arij 22-23 24
Surat Al-Ma’arij 24-26 25
Surat Al-Ma’arij 27-28 26
Surat Al-Ma’arij 29-35 27
DAFTAR PUSTAKA 31
BAB I
PENDAHULUAN
a) Latar Belakang
Kami ingin mengkaji ayat-ayat tentang manusia yang menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan manusia dan kelemahan-kelemahan manusia. Untuk mengetahui potensi-potensi apa sajakah yang dimiliki manusia.
b) Rumusan Masalah
1. Ayat-ayat apa sajakah yang menyebutkan tentang kelemahan-kelemahan manusia?
2. Ayat-ayat apa sajakah yang menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan manusia?
c) Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar para pembaca mengetahui apa sajakah kelebihan-kelebihan manusia yang telah dijelaskan pada ayat-ayat di Al-Qur’an. Serta memberikan pengetahuan tentang kelemahan-kelemahan manusia. Agar para pembawa akan selalu optimis dalam menjalani hidup dan juga selalu berpasrah kepada Allah SWT dalam menjalani hidup.
A. Ayat-Ayat Mengenai Kelebihan Manusia
Surat At Tiin 1-8
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
وَطُورِ سِينِينَ
dan demi bukit Sinai,
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yangserendah-rendahnya (neraka),
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Penafsiran Kata-Kata Sulit
التِّينِ : Menurut Ustadz Imam Muhammad Abduh, yang dimaksud adalah pohon tempat Nabi Adam bernaung tatkala di surga.
الزَّيْتُونِ : yang dimaksud adalah pohon yang merupakan pertanda surutnya banjir pada zaman nabi Nuh as.
طُورِ سِينِينَ : nama sebuah gunung. Ditempat itu Allah SWT. berdialog secara langsung dengan nabi Musa as.
الْبَلَدِ الْأَمِينِ : Makkah yang dimuliakan Allah dengan adanya Ka’bah.
: التَقْوِيمٍِMenjadikan sesuatu dalam bentuk yang sesuai dan serasi. Dikatakan Qawwamahu taqwiman. Istaqamasy-syai’u dan Taqawwama. Artinya sesuatu yang sesuai dan serasi.
بِالدِّينِ : Pembalasan sesudah hari kebangkitan.
Penafsiran
وَالتِّينِ
Aku bersumpah dengan masa Tin Nabi Adam – bapak manusia. Yaitu zaman ketika Nabi Adam dan istrinya menutupi dengan pohon Tin.
وَالزَّيْتُونِ
Aku bersumpah dengan masa Zaitun, yaitu masa Nabi Nuh as. dan anak cucunya. Ketika itu Allah menghukum kaumnya yang ingkar dengan didatangkannya banjir bandang, dan diselamatkan-Nya Nabi Nuh dan perahunya. Sedang beberapa masa kemudian datanglah seekor burung membawa daun pohon Zaitun yang membuat Nabi Nuh merasa gembira. Sebab hal ini menunjukkan redanya kemurkaan Allah dengan mengizinkan bumi menelan air bah, agar bumi bisa dihuni kembali oleh umat manusia. Kemudian perahu Nabi Nuh mendarat dan turunlah beliau beserta anak cucunya untuk menghuni dan membangun kembali bumi Allah.
Kesimpulan pohon Tiin dan Zaitun keduanya mengingatkan pada dua masa, yaitu masa Nabi Adam as, sebagai bapak manusia pertama, dan masa Nabi Nuh as. Sebagai bapak manusia kedua.
وَطُورِ سِينِينَ
Bukit ini mengingatkan kepada peristiwa diturunkannya ayat-ayat Ilahilah, yang ditampakkan secara jelas kepada Nabi Musa as. dan kaum-kaum. Serta peristiwa diturunkannya Kitab taurat kepada Nabi Musa setelah kejadian itu dan bersinarnya Nur Tauhid, yang pada masa sebelum itu dikotori oleh ‘aqidah wasaniyah’ (keyakinan keberhalaan). Para nabi setelah Musa as. Tetap mengajak kaumnya agar berpegang kepada syariat tauhid ini. Namun dengan berlalunya masa demi masa, ajaran ini telah dikotori dengan berbagai bid’ah. Hingga nabi Nabi Isa as. Dating menyelamatkan tauhid ini. Tetapi kaum nabi Isa pun tertimpa apa yang menimpa kaum para nabi sebelumnya, yaitu timbulnya perselisihan dalam agama, hingga tiba nur Muhammad saw. Untuk itu Allah berfirman pada ayat berikutnya.
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
Kota Mekkah yang dimuliakan Allah dengan dilahirkannya Muhammad Saw. Dan dengan keberadaan Ka’bah (Baitullah) padanya.
Kesimpulannya ; sesungguhnya Allah bersumpah memakai nama keempat masa ini, oleh sebab semuanya mempunyai asar (bekas) yang jelas bagi sejarah umat manusia diselamatkan dari kegelapan menuju alam yang terang.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik. Kami ciptakan dia dengan ukuran tinggi yang memadai, dan memakan makanannya dengan mulutnya. Lebih dari itu kami istimewakan manusia dengan akalnya, agar bisa berfikir dan menimpa berbagai ilmu pengetahuan serta bisa mewujudkan segala inspirasi yang dengannya manusia bisa berkuasa atas segala makhluk. Manusia memiliki kekuatan dan pengaruh yang dengan keduanya bisa menjangkau segala sesuatu.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Manusia banyak melakukan kerusakan yang telah menyebar di kalangan mereka, sehingga mereka terlanjur berada dalam kesesatan. Mereka terperosok dalam jurang kebejatan moral dan dosa-dosa. Hanya orang-orang yang dipelihara oleh Allah mereka tetap berada pada garis fitrah kejadiannya. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh firman Allah
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Kecuali orang-orang beriman dan mengetahui bahwa jagat raya ini ada yang menciptakan. Dia-lah Yang Mengatur kesemuanya, dan Dia-lah Yang meletakkan syariat bagi makhluk-Nya agar dilaksanakan oleh mereka. Orang-orang semacam ini percaya bahwa keburukan akan beroleh imbalan pahala.
Kemudian Allah mengecam kaum musyrikin atas keingkaran mereka kepada hari pembalasan, setelah dating bukti-bukti yang jelas kepada mereka. Untuk itu Allah berfirman :
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
Apa yang mendorong kamu meningkari adanya hari pembalasan atas segala amal perbuatanmu? Padahal telah datang kepadamu bukti-bukti nyata yang menjelaskan kebenaran masalah ini. Sesungguhnya Zat yang Menciptakan kamu dari air mani dan menyempurnakan kejadianmu, Ia mampu membangkitkanmu setelah kematianmu dan menghisabmu diakhirat kelak. Barangsiapa telah menyaksikan hal ini dengan kemampuan akal dan pikirannya, kemudiannya ia mengingkarinya, maka ia telah membutakan mata dan hatinya, dan Ia berada dalam kesesatan yang nyata.
Kemudian Allah mengokohkan kecaman-Nya melalui firman-Nya pada ayat selanjutnya :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya dalam menciptakan dan mengatur? Oleh sebab itu, Ia menyediakan balasan amal perbuatan manusia. Agar manusia memelihara derajat kemuliaannya yang telah disediakan oleh-Nya sejak awal kejadiannya. Namun, begitulah perilaku manusia. Kebodohannya telah menurunkan derajatnya kepada tingkatan yang paling rendah. Oleh sebab itu, Allah mengutus para rasul kepada mereka dengan membawa berita gembira dan peringatan. Kemudian Ia menurunkan syariat-syariat-Nya kepada para rasul agar dijelaskan kepada umat manusia dan untuk mengajak mereka kepada rahmat ilahi.
Pendapat Mufasir dan Analisis Penulis
Menurut Ahmad Mustofa Al-Maraghi secara umum menjelaskan tentang betapa adil dan bijaksananya Allah SWT. Selain itu juga menjelaskan mengenai kelebihan-kelebihan manusia, baik dari kondisi fisiknya yang berporsi sangat ideal, serta diberikan akal yang berpotensi untuk dikembangkan seluas-luasnya.
Menurut Sayyid Quthb, surat ini menjelaskan mengenai keadilan Allah SWT. yang dijelaskan pada ayat terakhir dalam surat ini. Kemudian menunjukkan kelebihan manusia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Selain itu didalamnya juga dijelaskan bahwa manusia dapat menjadi makhluk yang paling rendah daripada makhluk lainnya.
Menurut Harun Nasution, surat ini menunjukkan kebijaksanaan Allah SWT. yang memberikan keutamaan-keutamaan kepada manusia dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling utama daripada malaikat. Namun disisi lain Allah pun memberikan potensi bagi manusia untuk menjadi makhluk yang lebih rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang. Oleh karena itu manusia harus dapat menjaga keutamaan-keutamaan tersebut agar selalu menjadi makhluk yang paling utama daripada makhluk lainnya
Analisis penulis ; Allah memberikan kelebihan-kelebihan kepada manusia untuk memuliakan manusia. Dengan memberikan bentuk yang paling sempurna, dengan memberikan akal yang dapat dikembangkan seluas-luasnya. Namun disisi lain manusia juga dapat menjadi makhluk yang paling rendah diantara makhluk-makhluk lainnya, jikalau mereka lebih menggunakan nafsu daripada akalnya, inilah suatu bentuk kebijaksanaan Allah Swt yang disampaikan dalam salah satu firmannya yang indah ini.
Surat Al Isra’ 70
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan dilautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
حَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ
Kami angkut mereka di daratan. (Al-Isra’ : 70)
Yaitu dengan memakai hewan kendaraan seperti unta, kuda, dan begal; sedangkan di lautan dengan perahu dan kapal laut.
َرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
Kami beri mereka rezeki yang sebaik-baik. (Al-Isra’ :70)
Yaitu berupa hasil tanaman, buah-buahan, juga daging dan susu serta berbagai jenis makanan lainnya yang beraneka ragam serta lezat dan bergizi. Kami berikan pula kepada mereka penampilan yang baik serta pakaian-pakaian yang beraneka ragam jenis dan warna serta model-model yang mereka buat sendiri untuk diri mereka. Juga yang didatangkan oleh orang lain kepada merekadari berbagai penjuru dunia.
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Manusia lebih utama daripada makhluk hidup lainnya. Juga lebih utama daripada semua jenis makhluk. Ayat ini dapat dijadikan sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan manusia di atas jenis malaikat.
Pendapat Ulama dan Analisis Penulis
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah, Ayat di atas menjelaskan bentuk kehormatan, kemuliaan dan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada cucu Adam as. Itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan ia tidak khusus untuk satu rasa tau generasi tertentu, tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugerahkan untuk seluruh cucu Adam as. Sehingga diraih oleh orang perorangan, pribadi demi pribadi. Apa yang penulis sebutkan di atas adalah sebagian dari kandungan penghormatan itu.
Menurut syekh Sayyid Quthb dalam kitabnya ; Setiap manusia akan mendapatkan hasil amalnya. Salah satu bentuk kemuliaan manusia yang lain adalah bahwa ia bebas bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan akan menanggung akibat dari visi hidup yang ia anut dan hasil karya amalnya. Bahkan, ini merupakan karakter utama yang menjadikan manusia sebagai manusia ; di mana ia bebas memilih arah hidupnya dan ia sendiri yang akan bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan inilah manusia diangkat menjadi khalifah dinegeri dunia tempat berkarya ini.
Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir dalam kitabnya ; Ayat di atas menunjukkan bahwasannya manusia telah diberikan bermacam-macam nikmat yang kemudian menunjukkan bahwa manusia adalah istimewa dihadapan Allah SWT dibandingkan makhluk yang lainnya. Bahkan didalam ayat itu disebutkan pula bahwasannya manusia itu lebih utama daripada malaikat.
Analisis penulis ; Dalam ayat ini dijelaskan banyak sekali keutamaan-keutamaan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan manusia diatas semua makhluk lainnya. Bahkan memiliki potensi untuk lebih baik daripada malaikat yang diciptakan dari cahaya.
B. Ayat –Ayat Mengenai Kelemahan Manusia
Surat hud ayat 9-11
artinya :
Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya ia akan berkata , “telah hilang bencana-bencana itu dariku, “ sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar ( terhadap bencana ), dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
Dari arti surat hud ayat 9-10 diatas, menurut tafsir ibnu kasir berpendapat bahwasanya;
Allah Swt, menceritakan perihal manusia dan sifat-sifat yang tercela ada pada diri manusia, kecuali bagi orang yang dikasihi oleh allah dari kalangan hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahwa apabila manusia itu mendapatkan musibah sesudah mendapat nikmat, maka ia akan berputus asa dan merasa terputus dari kebaikan di massa selanjutnya, serta kafir dan ingkar terhadap keadaan yang sebelumnya. Seakan-akan dia tidak pernah mengalami suatu kebaikan pun, ddan sesudah itu dia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun, dan sesudah itu ia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun. Demikian pula kadaannya jika ua mendapat nikmat sesudah sengsara, sebagaimana disebutkan oleh Allah Swt :
ليقولن د هب السيئا ت عني ( هود : .ا )
Niscaya ia akan berkata, “Telah hilang bencana-bencana itu dariku.” ( Hud:10 )
Maksudnya, ketika manusia itu mendapatkan suatu kenikmatan setelah mendapatkan kesengsaraan, dia akan berkata bahwasanya tidak ada lagi kesengsaraan dan bencana yang menimpanya sesudah ini.
ا نه لفرح فخور ( هود :.ا) ِ
Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. ( Hud:10 )
Maksudnya, ia akan merasa sangat bahagia dan gembira dengan nikmat yang ada ditangannya, lalu ia bersikap angkuh dan sombong terhadapa orang lain. Allah Swt berfirman dalam ayat selanjutnya.
الا الدين صبروا( هود : اا)
Kecuali orang-orang yang sabar. ( Hud;11 )
Yakni sabar dalam mengahadapi bencana dan kesengsaraan.
و عملوا الصا لحا ت( هود : اا)
Dan mengerjakan amal-amal shalih ( Hud:11 )
اولئك لهم مغفرة( هود : اا)
Mereka itu beroleh ampunan. ( Hud:11)
واجر كبير( هود : اا)
pahala yang besar ( Hud:11 )
Maksudnya, ia memperoleh ampunan dan pahala yang besar dari apa yang telah ia perbuat baik disengaja maupun tidak disengaja.
Seperti yang disebutkan di dalam suatu hadist :
والدي نفسي بيد ه لا يصيب المؤ من هم ولا غم ولا نصب ولا و صب ولا حزن حتي الشوكة يسا كها الا كفر الله عنه بها من خطا يا ه
Artinya :
Demi tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaaNYA, tidak sekali-kali menimpa seorang mukmin suatu derita dan tidak pula suatu kesusahan, tidak pula suatu kepayahan, tidak pula suatu penyakit, tidak pula suatu kesedihan sehingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan karenanya sebagian dari dosa-dosanya.
Di dalam kitab shahihain disebutkan :
والدي نفسي بيد ه لايقضي الله للمؤ من قضاء الا كا ن خيرا له ان اصا بته سرا ء فشكر كان خيرا له, و ان اصا بته ضراء فصبر كان خيرا له, وليس د لك لاحد غير المؤمن.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali Allah memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan melainkan hal itu baik baginya. Jika ia beroleh kegembiraan, maka dia akan bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesedihan, maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun melainkan orang mukmin.
Menurut tafsir fi zhilalil qur’an, surat hud ayat ke 9-11 melukiskan tentang ;
Kondisi manusia ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Digambarkanlah buat mereka lukisan jiwa mereka dalam menghadapi suatu (azab) yang mereka minta disegerakan, ketika telah datang menimpa mereka dan bagaimana mereka bersedih dan brduka cita menghadapi peristiwa-peristiwa yang silih-berganti menimpa mereka, dan ketika kenikmatan lepas dan lenyap dari tangan mereka. Digambarkan pula kesombongan, keteperdayaan, dan ketertipuan mereka manakala mereka telah dilepaskan dari kesulitan dan diberi nikmat yang baru lagi.
Dari surat hud diatas berkesinambungan dengan surat al ‘ashr ayat 1-3, yang berbunyi ;
Artinya :
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
Kata وَالْعَصْرِ : Huruf Wâw tersebut adalah Wâw al-Qasam (huruf yang bermuatan sumpah)
Sedangkan kata al-‘Ashr artinya masa dimana terjadinya gerak-gerik manusia.
Kata اْلإِنسَان : maksudnya adalah semua individu manusia
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ:
Allah Ta’ala menjelaskan bahwa semua manusia berada dalam kerugian total kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Jadi mereka mengoleksi antara pembenaran dan iman terhadap hal yang diperintahkan Allah agar beriman dengannya. Namun, iman tidak akan dapat terealisasi tanpa keberadaan ilmu yang merupakan cabang darinya dimana hanya bisa terlengkapi dengannya.
Sedangkan amal shalih mencakup semua perbuatan baik, yang zhahir maupun bathin, wajib maupun Mustahabb (dianjurkan) yang terkait dengan hak-hak Allah dan hak makhluk-Nya.
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ : mereka saling nasehat-menasehati, berjanji, mewasiatkan satu sama lain, menggalakkan dan mensugesti untuk selalu beriman dan beramal shalih. Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah, di dalam haditsnya:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
“Agama ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad-Daari)
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : mereka saling berwasiat satu sama lain agar bersabar berikut dengan semua jenis-jenisnya, yaitu: sabar di dalam berbuat keta’atan kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya dan sabar terhadap takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya.
Di dalam surat yang agung ini jelaslah bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. Dengan dua hal pertama (iman dan amal shalih), seorang hamba dapat melengkapi dirinya sendiri sedangkan dengan dua hal berikutnya dia dapat melengkapi orang lain dan dengan melengkapi keempat-empatnya, maka jadilah seorang hamba orang yang terhindar dari kerugian dengan meraih keuntungan yang besar. Inilah yang tentunya akan selalu diupayakan oleh seorang insan yang berakal di dalam kehidupannya.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.”
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِاالْعَظِيْمِ
”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar”
Ar-razi menulis dalam tafsirnya:” Dalam surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugi, kecuali yang berpegang pada keempat ini. Yaitu; iman, amal shalih, pesan-memesan kepada kebenaran dan kesabaran.
jadi menurut analisa saya, bahwasanya surat hud ayat 9-11 dan al-'ashr ayat 1-3 adalah merupakan surah makiyyah, yang memiliki keseninambungan yang saling melengkapi satu sama lain. Ayat-ayat dia atas menjelaskan tentang kelemahan manusia, diantaranya adalah bersifat sombong dan tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, serta sesunguhnya manusia itu berada dalam kerugian apabila tidak mau beriman, mengerjakan hal-hal yang baik, saling menasehati dalam kebenaran dan menasehati untuk tetap bersabar dalam menerima cobaan. Dan sebaliknya apabila manusia mau beriman, beramal shalih, dan saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran, maka niscaya Allah akan menyelamatkan manusia dari masa kerugian dan memberikan pahala yang besar atas kesabaran dan kesyukuran mereka. Seperti yang terdapat dalam hadist berikut ini ;
و قال النبي صلى الله عليه و سلم : ان العظم الجزاء مع عظم البلاء,و ان الله تعا لى اد احب قوما ابتلا هم.فمن رضي فله الرضا, ومن سخط فله السخط.رواه الترمدي : وقال حديث حسن
Dan nabi Saw bersabda : sebenarnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka mereka akan di coba, siapa yang ridha (terhadap cobaan itu) maka ia akan memperoleh keridhaan-Nya dan siapa yang murka (terhadap cobaan itu) maka akan memperoleh kemurkaan-Nya. (HR.Tirmidzi dan ia berkata, “hadist ini Hasan”).
Kelemahan Manusia
11. “ Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al-Isra’:11)
• Wa kanal insanu (untuk kebaikan)
• ‘ajuulan (bersifat tergesa-gesa) didalam mendoakan dirinya, tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnyas
Ayat ini menerangkan bahwa Allah akan menerima do’a manusia secara mendadak (langsung) namun mufassir Imam Ibn Abbas, Imam Ibn Mujahid dan Imam Ibn Qotadah menafsirkan ayat ini, ayat “Wakaanal insanu ‘ajuulaa” menafsirkan bahwa Allah menerima do’a manusia tidak secara langsung, akan tetapi melalui proses terlebih dahulu. Manusia menyangka (merasa) bahwa do’anya dikabulkan padahal tidak. Layaknya seorang petani menanam sebuah pohon, ia mengambil hasil panennya setelah beberapa bulan kemudian. Tidak ada seorang petani sekalipun yang menanam pohon kemudian ke esokan harinya langsung memetik buahnya. Diriwayatkan Ibn Abbas wa Qod taqoddana fil hadits:
“La tad’uu ‘alaa anfusikum, walaa ‘alaa amwaalikum an tuwaafiquu minallahi sa’atan ijaabatun yatasjibu fiiha”.
Menurut tafsir Jalalain : (dan manusia mendoa untuk kejahatan) terhadap dirinnya dan keluarganya jika ia menggerutu (sebagaimana ia mendoa) sebagaimana ia mendoa untuk dirinya sendiri (untuk kebaikan. Dan adalah manusia) yang dimaksud adalah jenisnya (bersifat tergesa-gesa) didalam mendoakan dirinya, tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnya.
Thahir Ibn Asyur menilai penempatan ayat ini sulit dipahami. Mengangkat makna dari susunan dan redaksinya pun demikian. Ulama asal Tunisia ini berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut ini mengandung berita gembira dan ancaman, sedang mereka yang diancam seringkali memperolok-olokkan ancaman itu dengan berkata: “kapankah terjadinya ancaman itu?” nah karena itu tulisanya ayat ini berhubungan dengan sikap mereka itu dan disini diibaratkan bahwa jatuhnya ancaman itu tidak segera. Memang manusia apalagi yang kafir selalu bersifat tergesa-gesa, sampai-sampai dia berdoa untuk kejahatan sebagaimana doanya untuk kebaikan.
Al-Biqa’i berpendapat tentang hubungannya, bahwa setelah ayat yang lalu menjelaskan ajakan Ilahi melalui kitab suciNYA, dan sebelum itu telah diisyaratkan bahwa Allah SWT tidak tergesa-gesa dalam bertindak, kini dijelaskan tabiat manusia yang seringkali tergesa-gesa dalam ucapan dan perbuatannya.
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang bersumpah untuk dirinya, keturunannya bahkan untuk hartanya dengan doa yang jahat pada saat ia marah, seperti doa "Wahai Tuhan ! Turunkanlah laknat kepadaku, binasakanlah aku !", sebagaimana ia berdoa kepada Allah dengan doa yang baik seperti doa mereka agar Allah memberikan kesehatan dan melimpahkan keselamatan kepadanya, kepada keturunannya dan kepada harta bendanya.
Seandainya Allah SWT mengabulkan doanya itu, niscaya mereka tidak bisa mengelakkan diri dari hasil doanya. Akan tetapi Allah SWT tidak berbuat demikian. Hal ini tidak lain hanyalah karena keutamaan Allah yang Maha Besar.
Analisis Penulis: Didalam ayat ini menerangkan bahwa manusia selalu tergesa-gesa. Di akhir ayat Allah SWT menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai sifat tergesa-gesa, yaitu apabila ia menginginkan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya, maka tertutuplah pikirannya untuk menilai apa yang diinginkannya itu, apakah bermanfaat bagi dirinya, ataukah merugikan. Hal itu semata-mata didorong oleh sifat-sifat tergesa-gesa untuk mencapai tujuannya, tanpa dipikirkan dengan pemikiran yang matang terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya manusia itu tertarik pada keadaan lahiriah dari sesuatu tanpa meneliti hakikat dan rahasia dari sesuatu itu lebih mendalam.
Di dalam ayat ini terdapat sindiran terhadap orang-orang musyrik Arab yang mendustakan kebenaran Alquran, karena mereka tidak mau mempercayai terjadinya hari Pembalasan. Mereka lebih menyenangi dunia yang dapat mereka nikmati secara langsung, dari pada memikirkan janji dan ancaman yang akan diterimakan kepada mereka di Hari Pembalasan.
67. “ Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih”. (QS. Al-Isra’:67)
• wa kanal insanu kafuron (dan manusia itu adalah selalu tidak berterimakasih) banyak mengingkari nikmat Allah
Menurut tafsir Jalalain: (dan apabila kalian ditimpa bahaya) maksudnya marabahaya (di lautan) karena takut tenggelam (niscaya hilanglah) lenyaplah di hati kalian (siapa yang kalian seru) tuhan-tuhan yang kalian sembah itu, karena itu kalian tidak menyeru mereka (kecuali Dia) Allah SWT, maka pada saat itu kalian hanya berseru kepada-NYA semata, karena kalian berada dalam marabahaya, sedangkan kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang melenyapkannya melainkan hanyalah dia (maka tatkala Dia menyelamatkan kalian) dari tenggelam, lalu ia menyampaikan kalian (ke daratan, kalian berpaling) dari mentauhidkan-NYA (dan manusia itu adalah selalu tidak berterimakasih) banyak mengingkari nikmat-nikmat Allah.
Menurut al-Biqa’i, jjika kata rahiman dipahami dalam arti rahmat Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman, maka ayat ini mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang kafir. Ayat ini melanjutkan uraian pemeliharaan dan anugerah-NYA dengan menyatakan: dan apabila kamu ditimpa oleh marabahaya dilautan seperti amukan angin atau goncangan gelombang niscaya hilanglah dari ingatan kamu diapa yang selama ini kamu seru dan arahkan harapan dan doamu kepada mereka. Hilang semua itu, kecuali Dia yang maha Esa itu sehingga seluruh harapan kamu hanya tertuju secara ikhlas kepadaNYA. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu dari bahaya tenggelam dan mengantar kamu secara berangsur-angsur hingga tiba kedaratan, kamu berpaling tidak lagi mengikhlaskan diri dan mengesakanNYA. Dan manusia memiliki pembawaan selalu amat kafir yakni sangat enggan mengakui anugerah dan menolak berterimakasih, kecuali mereka yang taat kepadaNYA.
Analisis Penulis: Allah SWT mengungkapkan keadaan orang-orang kafir, apabila ditimpa mara bahaya yang mengancam jiwanya, mereka itu tak dapat mengharapkan pertolongan lain terkecuali kepada Allah, yang berkuasa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang kafir itu apabila ditimpa mara bahaya di lautan, niscaya hilanglah harapan mereka untuk meminta bantuan dan pertolongan kepada berhala-berhala, jin, malaikat, pohon-pohon dan batu-batu yang mereka sembah. Pada saat yang gawat itu yang mereka ingat hanyalah Allah Yang Maha Esa yang berkuasa untuk menghilangkan bahaya itu, maka mereka mohonkan pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa itu.
Akan tetapi apabila Allah telah mengabulkan permintaan mereka, yakni mereka telah terlepas dari bencana topan dan badai yang hampir menenggelamkan mereka, dan mereka tiba di darat dengan selamat, merekapun berpaling menjadi orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah dan merekapun menyekutukan Allah kembali dengan tuhan yang lain.
Dalam pada itu Allah SWT menegaskan bahwa tabiat manusia itu cenderung kepada melupakan nikmat-nikmat yang mereka terima dan selalu tidak beriman atau tidak mau berterima kasih kepada Zat yang memberikan nikmat itu. Hal ini termasuk keanehan yang terdapat pada diri manusia kecuali para hamba Nya yang selalu berada dalam bimbingan Allah dan perlindungan Nya.
Asbabun Nuzul: Ijrimah bin Abu Jahal bepergian ke laut menaiki perahu bersama orang-orang kafir sesampainya ditengah laut mereka mendapatkan mara bahaya berupa angin yang sangat keras disertai ombak yang sangat besar, kemudian orang-orang kafir berdo’a kepada tuhannya agar diberi keselamatan sampai kedarat. Kemudian Ijrimah bin abu jahal berkata dalam hatinya bahwasanya tidak ada yang dapat menolong kecuali Allah SWT ( Ijrimah bin abu Jahal berkata demikian karena Ijrimah pada waktu itu telah memeluk agama islam). Kemudian karena ombak dan angin yang sangat besar Ijrimah berdo’a berkata dalam hatinya “ Ya Allah selamatkanlah kami sehingga kami sampai didarat” dan ijrimah berjanji dalam hatinya “ Jika Engkau menyelamatkan kami sampai didarat kami berjanji kami akan bersalaman kepada Nabi Muhammad dan beriman kepadanya. Kemudian Allah menyelamatkan mereka semua dan mereka langsung bertamu kepada Nabi Muhammad dan langsung masuk islam. Kemudian mereka langsung menjadi muslimin yang sempurna.
100. “Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir”.
• Wa kanal insaanu qoturon (dan adalah manusia itu sangat kikir) maksudnya sangat bakhil
Menurut tafsir Al Mishbah ayat 100 diatas mengecam mereka yang enggan bersyukur atas aneka nikmat Allah. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW bahwa, katakanlah, kepada orang-orang musyrik yang mengajukan aneka tuntutan itu, atau kepada siapapun: “kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat rezeki dan aneka karunia Tuhanku yang telah melimpahkan kepadaku anugerah yang tidak ternilai. Kata antum/kamu digunakan ayat ini menunjukan kekhususan, yakni kamu saja, tidak ada orang lain bersama kamu yang memilikinya. Ayat ini dapat juga dipahami sebagai ditujukan kepada semua manusia, karena semua manusia memiliki sifat kikir, kecuali yang di rahmati Allah. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan tabiat manusia yang sangat kikir membelanjakan harta walau ia memiliki harta yang melimpah dan walau pembelanjaan itu menyangkut hal-hal yang semestinya mereka belanjakan.
Menurut Tafsir Jalalain: (Katakanlah) kepada mereka ("Seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku) berupa perbendaharaan rezeki dan hujan (niscaya kalian tahan perbendaharaan itu) maksudnya niscaya kalian akan bersikap kikir (karena takut membelanjakannya.") karena takut harta menjadi habis dibelanjakan oleh karenanya kalian bersikap kikir. (Dan adalah manusia itu sangat kikir) maksudnya sangat bakhil.
Kata qoturan menurut Ibn Abbas mempunyai arti sangat pelit. Menurut Ibn Abbas kata Qoturon itu ada tiga yaitu bahlun (pelit), jaz’un (lebih daripada pelit), hala’ah (paling pelit). Sedangkan menurut Ibn Qotadah, qoturon adalah bahlun yaitu pelit yang sangat pelit. Kedua mufassir tersebut menghubungkan dengan QS An-Nisa’ ayat 53. Itu dikatakan bahwa jika kalian takut untuk memberikan sesuatu kepada orang lain merasa khawatir jika apa yang mereka miliki akan berkurang atau bahkan habis maka menurut kedua mufassir tersebut Allah menilai sebagai pelit terpelit kecuali orang-orang yang diberi petunjuk dan hidayah. Pada dasarnya manusia itu pelit orang yang tidak pelit adalah orang yag diberi hidayah dan pertolongan.
Asbabun Nuzul: Dulu ada seorang pemuda yang hidup sendiri tidak punya keluarga dan tidak punya apa-apa, orang tersebut merasa khawatir terhadap apa yang mau dibelanjakan dan pemuda itu putus asa dari rahmat Allah, ketika itu banyak tetangga dan para sahabat membelanjakannya dan bersedekah melihat kenyatan yang seperti itu pemuda tersebut merasa minder.
Analisis Penulis: Pada ayat ini Allah SWT menerangkan sebab-sebab kenapa Allah tidak memperkenankan permintaan-permintaan orang-orang lalim itu, yaitu kalau Allah memperkenankan permintaan mereka itu maka mereka tetap berlaku kikir, tidak mau memberikan sebagian kecil kepada orang lain yang memerlukannya, karena mereka takut akan lenyap dari mereka kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh itu. Padahal nikmat Allah itu tidak akan habis-habis walaupun betapa banyaknya diambil oleh manusia.
Sifat kikir itu adalah watak dan tabiat manusia. Dengan watak dan tabiat yang tidak baik itulah yang menyebabkan manusia mendurhakai perintah-perintah Allah dan enggan memperhatikan larangan-larangan Nya.
Apabila firman Allah berbicara tentang sifat-sifat manusia dengan lafadz “ kana “ maka yang dimaksud adalah maka yang dimaksud adalah menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bagi mereka sudah merupakan garizah (naluri) dan tabiat yang tertanam dalam jiwa. Abu bakar razi telah mengkaji dengan seksama menggunakan lafadz “kana” dalam Al Qur’an menyimpulkan makna-makna yang terkandug dalam penggunaanya itu.
Asbabun nuzul surat Al-Ma’arij. ( Tafsir Jalalain )
Ibnu abbas r.a telah mengatakan bahaw orang yang meminta agar azab ditirunkan adalah An nadhr ibnul Harits. An nadhr mengatakan “ Ya Allah, jika seandainya Al Qur’an adalah benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit “
As saddi telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan di Makkah berkenaan dengan peristiwa An nadhr ibnul Harits karena sesungguhnya ia telah mengatakan, sebagaimana telah disitiroleh firman-Nya :
‘ Ya Allah, jika betul ( Al Qur’an ) ini, adalah benar dari sisi engkau…’ ( Q.S Al Anfal : 32 )
Azab yang dimintanya itu menimpanya pada waktu perang Badar ( yakni dia mati terbunuh )
Al Ma’arij : 19 – 21
“ sesungguhnya manusia diciptalan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkaluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir “
Tafsir Al-Azhar.
“ Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah “
Keluh kesah berarti tidakmempunyai ketenangan hati, selalu merasa cemas, gelisah dan kekurangan. Beberapa penyakit jiwa juga akan ikut menyertainya.
“ bila disentuh akan dia oleh suatu kesusahan dia pun gelisah”
Bila ditimpa susah, dia tidak dapat mengendalikan diri. Dia menjadi sangat menyesali nasib atau menyalahkan orang lain. Maunya harus ‘ tau beres’ saja, tidak mau diganggu sedikitpun.
Sedang pada ayat ke-21. mengartikan dia mendinding diri, tidak mau dihubungi orang lain, dia mencari 1000 macam akal untuk mengelak kalau ada yang akan datang meminta pertolongan.
Tafsir Al mishbah.
Thabathaba’i mengomentari ayat 19-21 adalah bahwa keinginan manusia meraih segala sesuatu yang merupakan potensi manusiawi yang dilekatkan Allah pada manusia, bukannyakeinginan untuk meraih segala sesuatu baik atau buruk berguna atau tidak, tetapi keinginan meluap untuk meraih kebaikan dan manfaat. Bukan juga keinginan meluap untuk meraih kebaikan dan manfaat baik berkaitan dengan dirinya maupun orang lain melainkan apa yang dinilainya baik dan bermanfaat untuk dirinya.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Selain itu sifat dan cirri tetapnya yang lain adalah sangat kikir, dia menganggap apa yang dia dapat adalah berkat jerih payahnya sendiri lantas dia menjadi seorang yang kikir dan memonopoli kekayaan itu untuk dirinya sendiri.
Al Ma’arij ayat ke 22 sampai 23
“ kecuali para yang shalat yang mereka itu menyangkut shalat mereka tetap bersinambung “
Tafsir Al mishbah.
Pengecualian ini mengesankan bahwa sifat-sifat yang disebut sebelumnya adalah sifat-sifat buruk yang tidak disandangoleh orang-orang mukmin. Thabathaba’i memahaminya berhubungan dengan ayat ayat sebelumnya secara langsung, hanya saja ulama ini menegaskan bahwa pengecualian orang yang melaksanakan shalat dan lain lain bukan berarti bahwa mereka tidak dilengkapi dengan naluri itu, hanya saja mereka menggunakan sesuai dengan tuntutan Allah.
Tafsir Al-Azhar.
Ini menyatakan bahwa hanya orang yang sembahyang saja yang dapat menyembuhkan diri dari rasa gelisah itu. Orang sembahyang dapat bebas dari penyakit yang berbahaya itu. Sebab dengan sembahyang sekurang-kurangnya lima waktu dalam siang dan malam, ditambah lagi sembahyang sunnah yang lain, maka jiwanya tak akan ada lagi gelisah. Sebab dia berangsur mandekat pada Allah. Diluar sembahyang itupun dia tetap sembahyang, artinya dia tetap ada hubungan antara jiwanya dngan Allah.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Adapun sifat kekekalan yang dikhususkan untuk shalat disini, “ mereka tetap mengerjakan shalat “ memberikan gambaran tentang keajegan dan keberlangsungannya. Maka shalatnya ini adalah shalat yang tak terputus oleh rasa sembrono atau malas. Dengan keajegan menunaikan shalat ini, berarti dia terus menerus berhubungan dengan Tuhan.
Al Ma’arij ayat 24 sampai 26
“ dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak tertentu, bagi yang meminta dan yang tidak mempunyai apa-apa dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan “
Tafsir Al mishbah.
Ulama’ memahami makna zakat haqqun ma’lum dalam arti zakat, karena zakat adalah kewajiban yang ditetapkan sendiri oleh yang bersangkutan ( selain zakat ) dan yang mereka berikan secara suka rela dan jumlah tertentu kepada fakir miskin. Maka pendapat yang kedua ini lebih menonjol sifat terpujinya.
Tafsir Al-Azhar.
Diantara yang diperintahkan Allah sesudah perintah sembahyang adalah menyediakan sebagian dari harta mereka untuk membantu orang-orang yang perlu dibantu. Baik zakat perternakan, pertanian ataupun kekayaan.
“ untuk orang yang meminta dan yang tidak punya apa-apa”
Maksud yang meminta disini adalah baik petugas pemungut zakat, atau orang yang sudah terdesak ( punya hutang ) tidak ada tempat dia mengadu lagi kecuali pada yang lebih mampu. Atau penuntut ilmu yang kekurangan biaya.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Yaitu zakat secara khusus dan sedekah-sedekah yang dimaklumi ukurannya, yang merupakan hak pada orang-orang mukmin. Atau mungkin maknanya lebih besar daripada ini. Yaknimereka menjadikan bagian tertentu pada hartanya karena mereka merasa bahwa itu adalah hak orang miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak. Tindakan ini terlepas dari sifat kikir dan kebebasan dari sifat rakus.
Al Ma’arij ; 27 – 28
“ dan orang-orang mereka itu – terhadap siksa Tuhan mereka- sangat takut. Sesungguhnya siksa Tuhan mereka, tidaklah aman “
Tafsir Al mishbah.
Akhir ayat yang lalu menggambarkan kepercayaan mereka terhadap adanya hari pembalasan yahkni hari kiamat. Pembalasan pada hari itu dapat merupakan pemberian sanksi dan jug adapt perolehan ganjaran. Kaum beriman itu dilukiskan oleh ayat diatas sebagai orang-orang yang sangat takut kepada jatuhnya sanksi, yakni tidak menonjol dalm perolehan nikmat. Menegaskan bahwa tidak ada seorangpun dapat memperoleh jaminan keselamatan dari siksa Allah. Sayyidina Umar pernah berkata : “seandainya ada pengumuman bahwa yang masuk neraka hanya seorang, maka aku khawatir akulah dia”.
Tafsir Al-Azhar.
Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi yang sebelumnya telah menjelaskan bagaimana ngeri dan seramnya azab Tuhan di hari itu. Beliaupun ngeri memikirkannya, beliaupun takut akan berbuat apa yang dilarang Allah dan diapun taat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Rasulullah SAW orang yang tiada bandingannya tentang kedekatannya kepada Allah dan mengetahui bahwa Allah telah memilih dan memeliharanya, selalu merasa takut terhadap azab Allah. Beliau yakin bahwa amalan beliau saja tidak dapat melindunginya dan memasukkanya ke surga kecuali dengan karunia dan rahmat-Nya.
Al Ma’arij ayat 29 sampai 35
“ dan orang-orang yang mereka itu menyangkut kemaluan mereka adalah pemelihara-pemelihara kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidaklah dicela. Barang siapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah pelampau-pelampau batas. Dan orang-orang yang terhadap amanat-amanat mereka dan perjanjian mereka adalah pemelihara-pemelihara(nya) dan orang-orang yang mereka itu terhadap kesaksian mereka adalah penegak-penegak(nya) dan orang-orang yang mereka itu menyangkut shalat-shalat mereka selalu memelihara(nya). Mereka itulah di surga lagi memuliakan “
Tafsir Al Mishbah.
Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut beberapa sifat yang berfungsi memelihara sekaligus menghiasi jiwa seseorang, kini ayat di atas menyebut beberapa sifat yang intinya adalah menghindarkan keburukan. Ayat diatas menjanjikan surga dan memuji orang-orang yang mereka itu baik laki-laki maupun perempuan, yakni secara mantap tidak menyalurkan kebutuhan biologis melalui hal dan dengan cara yang tidak dibenarkan agama.
Tafsir Al-Azhar.
Dalam ayat ini disebut bahwa salah satu ciri tanda orang yang beriman ialah menjaga dan tidak mempergunakan kehormatannya dengan salah. Sudah jadi salah satu dari syarat menjaga hidup manusia di atas dunia adalah apabila dia mengatur hubungannya dalam ikatan pernikahan.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Islam menghendaki masyarakat yang suci, bersih, indah dan transparan. Al Qur’an menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak yang diperoleh dengan cara yang ditetapkan syara’ dan diakui islam. Yaitu, budak yang diperoleh sebagai tawanan dalam perang fi sabilillah. Hanya jalan peperangan inilah satu-satunya diakui oleh islam.
ANALISA PENULIS
Semua manusia mempunyai sifat keluh dan kesah dan kikir. Kecuali orang-orang yang Allah kecualikan, yakni orang-orang yang shalat. Namun disisi lain bukan berarti mereka yang shalat tidak punya sifat tersebut, melainkan tetap memiliki hanya saja kadarnya kegalisahannya yang berbeda. Bagi mereka yang shalatnya benar-benar khusyu’ sehingga diluar shalatpun mereka tatep mengingat Allah maka mereka dapat mengendalikan kegelisahannya.
Pada ayat 24 sampai 26 menggambarkan keharmonisah hubungan antara sesame manusia terutama pada kaum yang lemah. Namun pada akhirnya, sebaik apapun manusia dimata sesama manusia, tidak dapat menjamin dia selamat dihari pembalasan nanti.
Sedangkan pada ayat 29 sampai 35 adalah juga sifat bagaimana cara menghindarkan keburukan. Yakni dengan cara menyalurkan kebutuhan biologis melalui pasangan yang syah ( istri ) atau dengan budak yang mereka miliki. Sebagaimana atas amanat yang dipikulkan pada mereka, memelihara waktunya hingga terlaksana tepat pada waktu yang telah ditetapkan serat memelihara rukun, wajib, dan sunnah-sunnahnya Dan Allah menjanjikan syurga bagi mereka yang mampu menjaga kehormatannya. Namun berbeda jika yang terjadi adalah sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi 30. Semarang :Toha Putra. 1993
Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi. Tafsir Ibnu Kasir Juz 15. Bandung : Sinar Baru Algensindo. 2003
Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Tafsir jalalain. Bandung : Sinar Algensindo. 2008
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Volume 7. Jakarta : Lentera Hati. 2007
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta : Lentera Hati. 2002
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 12. Depok : Gema Insani. 2006
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 7. Depok : Gema Insani. 2003
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta : Pustaka Panjimas. 2004
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Volume 15. Jakarta : Lentera Hati. 2007
Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Tafsir Jalalain. Bandung : Sinar baru Algesindo.1999
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan limpahan dan rahmatnya, sehingga kita dapat menikmati sebuah kehidupan yang sungguh penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Dan tak lupa sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa dunia dari zaman yang penuh kezaliman menuju zaman yang penuh dengan rahmat Allah SWT, yakni dengan ajaran Islam. beserta keluarganya dan para sahabat serta umatnya yang senantiasa mendakwahkan Islam,.
Kami sangat bersyukur, tugas makalah ini telah kami selesaikan dengan baik dan tepat waktu. Ada kalanya kami mengalami beberapa kendala untuk menyelesaikan tugas makalah ini terutama waktu, namun berkat bantuan doa, tenaga dan fasilitas dari orang-orang terdekat kami, akhirnya tugas ini dapat segera diselesaikan.
Ucapan terima kasih tidak lupa kami ucapkan kepada kedua orang tua kami, yang telah memberikan semua keperluan kami untuk menyelesaikan tugas ini. Yang kedua, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dra. Liliek Channa, M.Ag selaku dosen mata kuliah “Tafsir” yang telah membimbing kami untuk dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, yang tentunya tidaka dapat kami sampaikan satu-persatu.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan memberi inspirasi kepada para pembaca, sehingga dapat memperluas tsaqofah Islam dan menjadi orang yang cerdas.
Penyusun
Mojokerto, 3 Oktober 2010
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN iii
a) Latar Belakang iii
b) Rumusan Masalah iii
c) Tujuan iii
BAB II PEMBAHASAN 1
A. Ayat-Ayat Mengenai Kelebihan Manusia 1
Surat At Tiin 1-8 1
Surat Al-Isra’ 70 7
B. Ayat-Ayat Mengenai Kelemahan Manusia 9
Surat Hud 9-11 9
Surat Al-Ashr 1-3 11
Surat Al-Isra’11 15
Surat Al-Isra’ 67 17
Surat Al-Ma’arij 19-21 22
Surat Al-Ma’arij 22-23 24
Surat Al-Ma’arij 24-26 25
Surat Al-Ma’arij 27-28 26
Surat Al-Ma’arij 29-35 27
DAFTAR PUSTAKA 31
BAB I
PENDAHULUAN
a) Latar Belakang
Kami ingin mengkaji ayat-ayat tentang manusia yang menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan manusia dan kelemahan-kelemahan manusia. Untuk mengetahui potensi-potensi apa sajakah yang dimiliki manusia.
b) Rumusan Masalah
1. Ayat-ayat apa sajakah yang menyebutkan tentang kelemahan-kelemahan manusia?
2. Ayat-ayat apa sajakah yang menjelaskan tentang kelebihan-kelebihan manusia?
c) Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar para pembaca mengetahui apa sajakah kelebihan-kelebihan manusia yang telah dijelaskan pada ayat-ayat di Al-Qur’an. Serta memberikan pengetahuan tentang kelemahan-kelemahan manusia. Agar para pembawa akan selalu optimis dalam menjalani hidup dan juga selalu berpasrah kepada Allah SWT dalam menjalani hidup.
A. Ayat-Ayat Mengenai Kelebihan Manusia
Surat At Tiin 1-8
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,
وَطُورِ سِينِينَ
dan demi bukit Sinai,
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yangserendah-rendahnya (neraka),
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Penafsiran Kata-Kata Sulit
التِّينِ : Menurut Ustadz Imam Muhammad Abduh, yang dimaksud adalah pohon tempat Nabi Adam bernaung tatkala di surga.
الزَّيْتُونِ : yang dimaksud adalah pohon yang merupakan pertanda surutnya banjir pada zaman nabi Nuh as.
طُورِ سِينِينَ : nama sebuah gunung. Ditempat itu Allah SWT. berdialog secara langsung dengan nabi Musa as.
الْبَلَدِ الْأَمِينِ : Makkah yang dimuliakan Allah dengan adanya Ka’bah.
: التَقْوِيمٍِMenjadikan sesuatu dalam bentuk yang sesuai dan serasi. Dikatakan Qawwamahu taqwiman. Istaqamasy-syai’u dan Taqawwama. Artinya sesuatu yang sesuai dan serasi.
بِالدِّينِ : Pembalasan sesudah hari kebangkitan.
Penafsiran
وَالتِّينِ
Aku bersumpah dengan masa Tin Nabi Adam – bapak manusia. Yaitu zaman ketika Nabi Adam dan istrinya menutupi dengan pohon Tin.
وَالزَّيْتُونِ
Aku bersumpah dengan masa Zaitun, yaitu masa Nabi Nuh as. dan anak cucunya. Ketika itu Allah menghukum kaumnya yang ingkar dengan didatangkannya banjir bandang, dan diselamatkan-Nya Nabi Nuh dan perahunya. Sedang beberapa masa kemudian datanglah seekor burung membawa daun pohon Zaitun yang membuat Nabi Nuh merasa gembira. Sebab hal ini menunjukkan redanya kemurkaan Allah dengan mengizinkan bumi menelan air bah, agar bumi bisa dihuni kembali oleh umat manusia. Kemudian perahu Nabi Nuh mendarat dan turunlah beliau beserta anak cucunya untuk menghuni dan membangun kembali bumi Allah.
Kesimpulan pohon Tiin dan Zaitun keduanya mengingatkan pada dua masa, yaitu masa Nabi Adam as, sebagai bapak manusia pertama, dan masa Nabi Nuh as. Sebagai bapak manusia kedua.
وَطُورِ سِينِينَ
Bukit ini mengingatkan kepada peristiwa diturunkannya ayat-ayat Ilahilah, yang ditampakkan secara jelas kepada Nabi Musa as. dan kaum-kaum. Serta peristiwa diturunkannya Kitab taurat kepada Nabi Musa setelah kejadian itu dan bersinarnya Nur Tauhid, yang pada masa sebelum itu dikotori oleh ‘aqidah wasaniyah’ (keyakinan keberhalaan). Para nabi setelah Musa as. Tetap mengajak kaumnya agar berpegang kepada syariat tauhid ini. Namun dengan berlalunya masa demi masa, ajaran ini telah dikotori dengan berbagai bid’ah. Hingga nabi Nabi Isa as. Dating menyelamatkan tauhid ini. Tetapi kaum nabi Isa pun tertimpa apa yang menimpa kaum para nabi sebelumnya, yaitu timbulnya perselisihan dalam agama, hingga tiba nur Muhammad saw. Untuk itu Allah berfirman pada ayat berikutnya.
وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
Kota Mekkah yang dimuliakan Allah dengan dilahirkannya Muhammad Saw. Dan dengan keberadaan Ka’bah (Baitullah) padanya.
Kesimpulannya ; sesungguhnya Allah bersumpah memakai nama keempat masa ini, oleh sebab semuanya mempunyai asar (bekas) yang jelas bagi sejarah umat manusia diselamatkan dari kegelapan menuju alam yang terang.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik. Kami ciptakan dia dengan ukuran tinggi yang memadai, dan memakan makanannya dengan mulutnya. Lebih dari itu kami istimewakan manusia dengan akalnya, agar bisa berfikir dan menimpa berbagai ilmu pengetahuan serta bisa mewujudkan segala inspirasi yang dengannya manusia bisa berkuasa atas segala makhluk. Manusia memiliki kekuatan dan pengaruh yang dengan keduanya bisa menjangkau segala sesuatu.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Manusia banyak melakukan kerusakan yang telah menyebar di kalangan mereka, sehingga mereka terlanjur berada dalam kesesatan. Mereka terperosok dalam jurang kebejatan moral dan dosa-dosa. Hanya orang-orang yang dipelihara oleh Allah mereka tetap berada pada garis fitrah kejadiannya. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh firman Allah
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Kecuali orang-orang beriman dan mengetahui bahwa jagat raya ini ada yang menciptakan. Dia-lah Yang Mengatur kesemuanya, dan Dia-lah Yang meletakkan syariat bagi makhluk-Nya agar dilaksanakan oleh mereka. Orang-orang semacam ini percaya bahwa keburukan akan beroleh imbalan pahala.
Kemudian Allah mengecam kaum musyrikin atas keingkaran mereka kepada hari pembalasan, setelah dating bukti-bukti yang jelas kepada mereka. Untuk itu Allah berfirman :
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
Apa yang mendorong kamu meningkari adanya hari pembalasan atas segala amal perbuatanmu? Padahal telah datang kepadamu bukti-bukti nyata yang menjelaskan kebenaran masalah ini. Sesungguhnya Zat yang Menciptakan kamu dari air mani dan menyempurnakan kejadianmu, Ia mampu membangkitkanmu setelah kematianmu dan menghisabmu diakhirat kelak. Barangsiapa telah menyaksikan hal ini dengan kemampuan akal dan pikirannya, kemudiannya ia mengingkarinya, maka ia telah membutakan mata dan hatinya, dan Ia berada dalam kesesatan yang nyata.
Kemudian Allah mengokohkan kecaman-Nya melalui firman-Nya pada ayat selanjutnya :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya dalam menciptakan dan mengatur? Oleh sebab itu, Ia menyediakan balasan amal perbuatan manusia. Agar manusia memelihara derajat kemuliaannya yang telah disediakan oleh-Nya sejak awal kejadiannya. Namun, begitulah perilaku manusia. Kebodohannya telah menurunkan derajatnya kepada tingkatan yang paling rendah. Oleh sebab itu, Allah mengutus para rasul kepada mereka dengan membawa berita gembira dan peringatan. Kemudian Ia menurunkan syariat-syariat-Nya kepada para rasul agar dijelaskan kepada umat manusia dan untuk mengajak mereka kepada rahmat ilahi.
Pendapat Mufasir dan Analisis Penulis
Menurut Ahmad Mustofa Al-Maraghi secara umum menjelaskan tentang betapa adil dan bijaksananya Allah SWT. Selain itu juga menjelaskan mengenai kelebihan-kelebihan manusia, baik dari kondisi fisiknya yang berporsi sangat ideal, serta diberikan akal yang berpotensi untuk dikembangkan seluas-luasnya.
Menurut Sayyid Quthb, surat ini menjelaskan mengenai keadilan Allah SWT. yang dijelaskan pada ayat terakhir dalam surat ini. Kemudian menunjukkan kelebihan manusia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Selain itu didalamnya juga dijelaskan bahwa manusia dapat menjadi makhluk yang paling rendah daripada makhluk lainnya.
Menurut Harun Nasution, surat ini menunjukkan kebijaksanaan Allah SWT. yang memberikan keutamaan-keutamaan kepada manusia dan menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling utama daripada malaikat. Namun disisi lain Allah pun memberikan potensi bagi manusia untuk menjadi makhluk yang lebih rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang. Oleh karena itu manusia harus dapat menjaga keutamaan-keutamaan tersebut agar selalu menjadi makhluk yang paling utama daripada makhluk lainnya
Analisis penulis ; Allah memberikan kelebihan-kelebihan kepada manusia untuk memuliakan manusia. Dengan memberikan bentuk yang paling sempurna, dengan memberikan akal yang dapat dikembangkan seluas-luasnya. Namun disisi lain manusia juga dapat menjadi makhluk yang paling rendah diantara makhluk-makhluk lainnya, jikalau mereka lebih menggunakan nafsu daripada akalnya, inilah suatu bentuk kebijaksanaan Allah Swt yang disampaikan dalam salah satu firmannya yang indah ini.
Surat Al Isra’ 70
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan dilautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
حَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ
Kami angkut mereka di daratan. (Al-Isra’ : 70)
Yaitu dengan memakai hewan kendaraan seperti unta, kuda, dan begal; sedangkan di lautan dengan perahu dan kapal laut.
َرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ
Kami beri mereka rezeki yang sebaik-baik. (Al-Isra’ :70)
Yaitu berupa hasil tanaman, buah-buahan, juga daging dan susu serta berbagai jenis makanan lainnya yang beraneka ragam serta lezat dan bergizi. Kami berikan pula kepada mereka penampilan yang baik serta pakaian-pakaian yang beraneka ragam jenis dan warna serta model-model yang mereka buat sendiri untuk diri mereka. Juga yang didatangkan oleh orang lain kepada merekadari berbagai penjuru dunia.
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
Manusia lebih utama daripada makhluk hidup lainnya. Juga lebih utama daripada semua jenis makhluk. Ayat ini dapat dijadikan sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan manusia di atas jenis malaikat.
Pendapat Ulama dan Analisis Penulis
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah, Ayat di atas menjelaskan bentuk kehormatan, kemuliaan dan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada cucu Adam as. Itu agaknya untuk mengisyaratkan bahwa kehormatan tersebut banyak dan ia tidak khusus untuk satu rasa tau generasi tertentu, tidak juga berdasar agama atau keturunan, tetapi dianugerahkan untuk seluruh cucu Adam as. Sehingga diraih oleh orang perorangan, pribadi demi pribadi. Apa yang penulis sebutkan di atas adalah sebagian dari kandungan penghormatan itu.
Menurut syekh Sayyid Quthb dalam kitabnya ; Setiap manusia akan mendapatkan hasil amalnya. Salah satu bentuk kemuliaan manusia yang lain adalah bahwa ia bebas bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan akan menanggung akibat dari visi hidup yang ia anut dan hasil karya amalnya. Bahkan, ini merupakan karakter utama yang menjadikan manusia sebagai manusia ; di mana ia bebas memilih arah hidupnya dan ia sendiri yang akan bertanggung jawab atas pilihannya. Dengan inilah manusia diangkat menjadi khalifah dinegeri dunia tempat berkarya ini.
Menurut Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir dalam kitabnya ; Ayat di atas menunjukkan bahwasannya manusia telah diberikan bermacam-macam nikmat yang kemudian menunjukkan bahwa manusia adalah istimewa dihadapan Allah SWT dibandingkan makhluk yang lainnya. Bahkan didalam ayat itu disebutkan pula bahwasannya manusia itu lebih utama daripada malaikat.
Analisis penulis ; Dalam ayat ini dijelaskan banyak sekali keutamaan-keutamaan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan manusia diatas semua makhluk lainnya. Bahkan memiliki potensi untuk lebih baik daripada malaikat yang diciptakan dari cahaya.
B. Ayat –Ayat Mengenai Kelemahan Manusia
Surat hud ayat 9-11
artinya :
Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya ia akan berkata , “telah hilang bencana-bencana itu dariku, “ sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar ( terhadap bencana ), dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
Dari arti surat hud ayat 9-10 diatas, menurut tafsir ibnu kasir berpendapat bahwasanya;
Allah Swt, menceritakan perihal manusia dan sifat-sifat yang tercela ada pada diri manusia, kecuali bagi orang yang dikasihi oleh allah dari kalangan hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahwa apabila manusia itu mendapatkan musibah sesudah mendapat nikmat, maka ia akan berputus asa dan merasa terputus dari kebaikan di massa selanjutnya, serta kafir dan ingkar terhadap keadaan yang sebelumnya. Seakan-akan dia tidak pernah mengalami suatu kebaikan pun, ddan sesudah itu dia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun, dan sesudah itu ia tidak mengharapkan suatu jalan keluar pun. Demikian pula kadaannya jika ua mendapat nikmat sesudah sengsara, sebagaimana disebutkan oleh Allah Swt :
ليقولن د هب السيئا ت عني ( هود : .ا )
Niscaya ia akan berkata, “Telah hilang bencana-bencana itu dariku.” ( Hud:10 )
Maksudnya, ketika manusia itu mendapatkan suatu kenikmatan setelah mendapatkan kesengsaraan, dia akan berkata bahwasanya tidak ada lagi kesengsaraan dan bencana yang menimpanya sesudah ini.
ا نه لفرح فخور ( هود :.ا) ِ
Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. ( Hud:10 )
Maksudnya, ia akan merasa sangat bahagia dan gembira dengan nikmat yang ada ditangannya, lalu ia bersikap angkuh dan sombong terhadapa orang lain. Allah Swt berfirman dalam ayat selanjutnya.
الا الدين صبروا( هود : اا)
Kecuali orang-orang yang sabar. ( Hud;11 )
Yakni sabar dalam mengahadapi bencana dan kesengsaraan.
و عملوا الصا لحا ت( هود : اا)
Dan mengerjakan amal-amal shalih ( Hud:11 )
اولئك لهم مغفرة( هود : اا)
Mereka itu beroleh ampunan. ( Hud:11)
واجر كبير( هود : اا)
pahala yang besar ( Hud:11 )
Maksudnya, ia memperoleh ampunan dan pahala yang besar dari apa yang telah ia perbuat baik disengaja maupun tidak disengaja.
Seperti yang disebutkan di dalam suatu hadist :
والدي نفسي بيد ه لا يصيب المؤ من هم ولا غم ولا نصب ولا و صب ولا حزن حتي الشوكة يسا كها الا كفر الله عنه بها من خطا يا ه
Artinya :
Demi tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaaNYA, tidak sekali-kali menimpa seorang mukmin suatu derita dan tidak pula suatu kesusahan, tidak pula suatu kepayahan, tidak pula suatu penyakit, tidak pula suatu kesedihan sehingga duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapuskan karenanya sebagian dari dosa-dosanya.
Di dalam kitab shahihain disebutkan :
والدي نفسي بيد ه لايقضي الله للمؤ من قضاء الا كا ن خيرا له ان اصا بته سرا ء فشكر كان خيرا له, و ان اصا بته ضراء فصبر كان خيرا له, وليس د لك لاحد غير المؤمن.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali Allah memutuskan bagi orang mukmin suatu keputusan melainkan hal itu baik baginya. Jika ia beroleh kegembiraan, maka dia akan bersyukur, dan bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa kesedihan, maka ia bersabar, dan bersabar itu baik baginya. Hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun melainkan orang mukmin.
Menurut tafsir fi zhilalil qur’an, surat hud ayat ke 9-11 melukiskan tentang ;
Kondisi manusia ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Digambarkanlah buat mereka lukisan jiwa mereka dalam menghadapi suatu (azab) yang mereka minta disegerakan, ketika telah datang menimpa mereka dan bagaimana mereka bersedih dan brduka cita menghadapi peristiwa-peristiwa yang silih-berganti menimpa mereka, dan ketika kenikmatan lepas dan lenyap dari tangan mereka. Digambarkan pula kesombongan, keteperdayaan, dan ketertipuan mereka manakala mereka telah dilepaskan dari kesulitan dan diberi nikmat yang baru lagi.
Dari surat hud diatas berkesinambungan dengan surat al ‘ashr ayat 1-3, yang berbunyi ;
Artinya :
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).
Kata وَالْعَصْرِ : Huruf Wâw tersebut adalah Wâw al-Qasam (huruf yang bermuatan sumpah)
Sedangkan kata al-‘Ashr artinya masa dimana terjadinya gerak-gerik manusia.
Kata اْلإِنسَان : maksudnya adalah semua individu manusia
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ:
Allah Ta’ala menjelaskan bahwa semua manusia berada dalam kerugian total kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Jadi mereka mengoleksi antara pembenaran dan iman terhadap hal yang diperintahkan Allah agar beriman dengannya. Namun, iman tidak akan dapat terealisasi tanpa keberadaan ilmu yang merupakan cabang darinya dimana hanya bisa terlengkapi dengannya.
Sedangkan amal shalih mencakup semua perbuatan baik, yang zhahir maupun bathin, wajib maupun Mustahabb (dianjurkan) yang terkait dengan hak-hak Allah dan hak makhluk-Nya.
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ : mereka saling nasehat-menasehati, berjanji, mewasiatkan satu sama lain, menggalakkan dan mensugesti untuk selalu beriman dan beramal shalih. Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah, di dalam haditsnya:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
“Agama ini adalah nasehat” (H.R Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad-Daari)
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : mereka saling berwasiat satu sama lain agar bersabar berikut dengan semua jenis-jenisnya, yaitu: sabar di dalam berbuat keta’atan kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya dan sabar terhadap takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya.
Di dalam surat yang agung ini jelaslah bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. Dengan dua hal pertama (iman dan amal shalih), seorang hamba dapat melengkapi dirinya sendiri sedangkan dengan dua hal berikutnya dia dapat melengkapi orang lain dan dengan melengkapi keempat-empatnya, maka jadilah seorang hamba orang yang terhindar dari kerugian dengan meraih keuntungan yang besar. Inilah yang tentunya akan selalu diupayakan oleh seorang insan yang berakal di dalam kehidupannya.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.”
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Pada akhir tafsir surat Al ‘Ashr ini, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,
فَبِالِأَمْرَيْنِ اْلأَوَّلِيْنَ، يُكَمِّلُ اْلإِنْسَانُ نَفْسَهُ، وَبِالْأَمْرَيْنِ اْلأَخِيْرِيْنَ يُكَمِّلُ غَيْرَهُ، وَبِتَكْمِيْلِ اْلأُمُوْرِ اْلأَرْبَعَةِ، يَكُوْنُ اْلإِنْسَانُ قَدْ سَلِمَ تعل مِنَ الْخُسَارِ، وَفَازَ بِالْرِبْحِاالْعَظِيْمِ
”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (berdakwah dan bersabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat kriteria tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar”
Ar-razi menulis dalam tafsirnya:” Dalam surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sekalian manusia dianggap rugi, kecuali yang berpegang pada keempat ini. Yaitu; iman, amal shalih, pesan-memesan kepada kebenaran dan kesabaran.
jadi menurut analisa saya, bahwasanya surat hud ayat 9-11 dan al-'ashr ayat 1-3 adalah merupakan surah makiyyah, yang memiliki keseninambungan yang saling melengkapi satu sama lain. Ayat-ayat dia atas menjelaskan tentang kelemahan manusia, diantaranya adalah bersifat sombong dan tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, serta sesunguhnya manusia itu berada dalam kerugian apabila tidak mau beriman, mengerjakan hal-hal yang baik, saling menasehati dalam kebenaran dan menasehati untuk tetap bersabar dalam menerima cobaan. Dan sebaliknya apabila manusia mau beriman, beramal shalih, dan saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran, maka niscaya Allah akan menyelamatkan manusia dari masa kerugian dan memberikan pahala yang besar atas kesabaran dan kesyukuran mereka. Seperti yang terdapat dalam hadist berikut ini ;
و قال النبي صلى الله عليه و سلم : ان العظم الجزاء مع عظم البلاء,و ان الله تعا لى اد احب قوما ابتلا هم.فمن رضي فله الرضا, ومن سخط فله السخط.رواه الترمدي : وقال حديث حسن
Dan nabi Saw bersabda : sebenarnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka mereka akan di coba, siapa yang ridha (terhadap cobaan itu) maka ia akan memperoleh keridhaan-Nya dan siapa yang murka (terhadap cobaan itu) maka akan memperoleh kemurkaan-Nya. (HR.Tirmidzi dan ia berkata, “hadist ini Hasan”).
Kelemahan Manusia
11. “ Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (QS. Al-Isra’:11)
• Wa kanal insanu (untuk kebaikan)
• ‘ajuulan (bersifat tergesa-gesa) didalam mendoakan dirinya, tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnyas
Ayat ini menerangkan bahwa Allah akan menerima do’a manusia secara mendadak (langsung) namun mufassir Imam Ibn Abbas, Imam Ibn Mujahid dan Imam Ibn Qotadah menafsirkan ayat ini, ayat “Wakaanal insanu ‘ajuulaa” menafsirkan bahwa Allah menerima do’a manusia tidak secara langsung, akan tetapi melalui proses terlebih dahulu. Manusia menyangka (merasa) bahwa do’anya dikabulkan padahal tidak. Layaknya seorang petani menanam sebuah pohon, ia mengambil hasil panennya setelah beberapa bulan kemudian. Tidak ada seorang petani sekalipun yang menanam pohon kemudian ke esokan harinya langsung memetik buahnya. Diriwayatkan Ibn Abbas wa Qod taqoddana fil hadits:
“La tad’uu ‘alaa anfusikum, walaa ‘alaa amwaalikum an tuwaafiquu minallahi sa’atan ijaabatun yatasjibu fiiha”.
Menurut tafsir Jalalain : (dan manusia mendoa untuk kejahatan) terhadap dirinnya dan keluarganya jika ia menggerutu (sebagaimana ia mendoa) sebagaimana ia mendoa untuk dirinya sendiri (untuk kebaikan. Dan adalah manusia) yang dimaksud adalah jenisnya (bersifat tergesa-gesa) didalam mendoakan dirinya, tanpa memikirkan lebih lanjut akan akibatnya.
Thahir Ibn Asyur menilai penempatan ayat ini sulit dipahami. Mengangkat makna dari susunan dan redaksinya pun demikian. Ulama asal Tunisia ini berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut ini mengandung berita gembira dan ancaman, sedang mereka yang diancam seringkali memperolok-olokkan ancaman itu dengan berkata: “kapankah terjadinya ancaman itu?” nah karena itu tulisanya ayat ini berhubungan dengan sikap mereka itu dan disini diibaratkan bahwa jatuhnya ancaman itu tidak segera. Memang manusia apalagi yang kafir selalu bersifat tergesa-gesa, sampai-sampai dia berdoa untuk kejahatan sebagaimana doanya untuk kebaikan.
Al-Biqa’i berpendapat tentang hubungannya, bahwa setelah ayat yang lalu menjelaskan ajakan Ilahi melalui kitab suciNYA, dan sebelum itu telah diisyaratkan bahwa Allah SWT tidak tergesa-gesa dalam bertindak, kini dijelaskan tabiat manusia yang seringkali tergesa-gesa dalam ucapan dan perbuatannya.
Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang bersumpah untuk dirinya, keturunannya bahkan untuk hartanya dengan doa yang jahat pada saat ia marah, seperti doa "Wahai Tuhan ! Turunkanlah laknat kepadaku, binasakanlah aku !", sebagaimana ia berdoa kepada Allah dengan doa yang baik seperti doa mereka agar Allah memberikan kesehatan dan melimpahkan keselamatan kepadanya, kepada keturunannya dan kepada harta bendanya.
Seandainya Allah SWT mengabulkan doanya itu, niscaya mereka tidak bisa mengelakkan diri dari hasil doanya. Akan tetapi Allah SWT tidak berbuat demikian. Hal ini tidak lain hanyalah karena keutamaan Allah yang Maha Besar.
Analisis Penulis: Didalam ayat ini menerangkan bahwa manusia selalu tergesa-gesa. Di akhir ayat Allah SWT menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai sifat tergesa-gesa, yaitu apabila ia menginginkan sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya, maka tertutuplah pikirannya untuk menilai apa yang diinginkannya itu, apakah bermanfaat bagi dirinya, ataukah merugikan. Hal itu semata-mata didorong oleh sifat-sifat tergesa-gesa untuk mencapai tujuannya, tanpa dipikirkan dengan pemikiran yang matang terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya manusia itu tertarik pada keadaan lahiriah dari sesuatu tanpa meneliti hakikat dan rahasia dari sesuatu itu lebih mendalam.
Di dalam ayat ini terdapat sindiran terhadap orang-orang musyrik Arab yang mendustakan kebenaran Alquran, karena mereka tidak mau mempercayai terjadinya hari Pembalasan. Mereka lebih menyenangi dunia yang dapat mereka nikmati secara langsung, dari pada memikirkan janji dan ancaman yang akan diterimakan kepada mereka di Hari Pembalasan.
67. “ Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih”. (QS. Al-Isra’:67)
• wa kanal insanu kafuron (dan manusia itu adalah selalu tidak berterimakasih) banyak mengingkari nikmat Allah
Menurut tafsir Jalalain: (dan apabila kalian ditimpa bahaya) maksudnya marabahaya (di lautan) karena takut tenggelam (niscaya hilanglah) lenyaplah di hati kalian (siapa yang kalian seru) tuhan-tuhan yang kalian sembah itu, karena itu kalian tidak menyeru mereka (kecuali Dia) Allah SWT, maka pada saat itu kalian hanya berseru kepada-NYA semata, karena kalian berada dalam marabahaya, sedangkan kalian mengetahui, bahwa tidak ada yang melenyapkannya melainkan hanyalah dia (maka tatkala Dia menyelamatkan kalian) dari tenggelam, lalu ia menyampaikan kalian (ke daratan, kalian berpaling) dari mentauhidkan-NYA (dan manusia itu adalah selalu tidak berterimakasih) banyak mengingkari nikmat-nikmat Allah.
Menurut al-Biqa’i, jjika kata rahiman dipahami dalam arti rahmat Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman, maka ayat ini mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang kafir. Ayat ini melanjutkan uraian pemeliharaan dan anugerah-NYA dengan menyatakan: dan apabila kamu ditimpa oleh marabahaya dilautan seperti amukan angin atau goncangan gelombang niscaya hilanglah dari ingatan kamu diapa yang selama ini kamu seru dan arahkan harapan dan doamu kepada mereka. Hilang semua itu, kecuali Dia yang maha Esa itu sehingga seluruh harapan kamu hanya tertuju secara ikhlas kepadaNYA. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu dari bahaya tenggelam dan mengantar kamu secara berangsur-angsur hingga tiba kedaratan, kamu berpaling tidak lagi mengikhlaskan diri dan mengesakanNYA. Dan manusia memiliki pembawaan selalu amat kafir yakni sangat enggan mengakui anugerah dan menolak berterimakasih, kecuali mereka yang taat kepadaNYA.
Analisis Penulis: Allah SWT mengungkapkan keadaan orang-orang kafir, apabila ditimpa mara bahaya yang mengancam jiwanya, mereka itu tak dapat mengharapkan pertolongan lain terkecuali kepada Allah, yang berkuasa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang kafir itu apabila ditimpa mara bahaya di lautan, niscaya hilanglah harapan mereka untuk meminta bantuan dan pertolongan kepada berhala-berhala, jin, malaikat, pohon-pohon dan batu-batu yang mereka sembah. Pada saat yang gawat itu yang mereka ingat hanyalah Allah Yang Maha Esa yang berkuasa untuk menghilangkan bahaya itu, maka mereka mohonkan pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa itu.
Akan tetapi apabila Allah telah mengabulkan permintaan mereka, yakni mereka telah terlepas dari bencana topan dan badai yang hampir menenggelamkan mereka, dan mereka tiba di darat dengan selamat, merekapun berpaling menjadi orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah dan merekapun menyekutukan Allah kembali dengan tuhan yang lain.
Dalam pada itu Allah SWT menegaskan bahwa tabiat manusia itu cenderung kepada melupakan nikmat-nikmat yang mereka terima dan selalu tidak beriman atau tidak mau berterima kasih kepada Zat yang memberikan nikmat itu. Hal ini termasuk keanehan yang terdapat pada diri manusia kecuali para hamba Nya yang selalu berada dalam bimbingan Allah dan perlindungan Nya.
Asbabun Nuzul: Ijrimah bin Abu Jahal bepergian ke laut menaiki perahu bersama orang-orang kafir sesampainya ditengah laut mereka mendapatkan mara bahaya berupa angin yang sangat keras disertai ombak yang sangat besar, kemudian orang-orang kafir berdo’a kepada tuhannya agar diberi keselamatan sampai kedarat. Kemudian Ijrimah bin abu jahal berkata dalam hatinya bahwasanya tidak ada yang dapat menolong kecuali Allah SWT ( Ijrimah bin abu Jahal berkata demikian karena Ijrimah pada waktu itu telah memeluk agama islam). Kemudian karena ombak dan angin yang sangat besar Ijrimah berdo’a berkata dalam hatinya “ Ya Allah selamatkanlah kami sehingga kami sampai didarat” dan ijrimah berjanji dalam hatinya “ Jika Engkau menyelamatkan kami sampai didarat kami berjanji kami akan bersalaman kepada Nabi Muhammad dan beriman kepadanya. Kemudian Allah menyelamatkan mereka semua dan mereka langsung bertamu kepada Nabi Muhammad dan langsung masuk islam. Kemudian mereka langsung menjadi muslimin yang sempurna.
100. “Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir”.
• Wa kanal insaanu qoturon (dan adalah manusia itu sangat kikir) maksudnya sangat bakhil
Menurut tafsir Al Mishbah ayat 100 diatas mengecam mereka yang enggan bersyukur atas aneka nikmat Allah. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW bahwa, katakanlah, kepada orang-orang musyrik yang mengajukan aneka tuntutan itu, atau kepada siapapun: “kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat rezeki dan aneka karunia Tuhanku yang telah melimpahkan kepadaku anugerah yang tidak ternilai. Kata antum/kamu digunakan ayat ini menunjukan kekhususan, yakni kamu saja, tidak ada orang lain bersama kamu yang memilikinya. Ayat ini dapat juga dipahami sebagai ditujukan kepada semua manusia, karena semua manusia memiliki sifat kikir, kecuali yang di rahmati Allah. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan tabiat manusia yang sangat kikir membelanjakan harta walau ia memiliki harta yang melimpah dan walau pembelanjaan itu menyangkut hal-hal yang semestinya mereka belanjakan.
Menurut Tafsir Jalalain: (Katakanlah) kepada mereka ("Seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabbku) berupa perbendaharaan rezeki dan hujan (niscaya kalian tahan perbendaharaan itu) maksudnya niscaya kalian akan bersikap kikir (karena takut membelanjakannya.") karena takut harta menjadi habis dibelanjakan oleh karenanya kalian bersikap kikir. (Dan adalah manusia itu sangat kikir) maksudnya sangat bakhil.
Kata qoturan menurut Ibn Abbas mempunyai arti sangat pelit. Menurut Ibn Abbas kata Qoturon itu ada tiga yaitu bahlun (pelit), jaz’un (lebih daripada pelit), hala’ah (paling pelit). Sedangkan menurut Ibn Qotadah, qoturon adalah bahlun yaitu pelit yang sangat pelit. Kedua mufassir tersebut menghubungkan dengan QS An-Nisa’ ayat 53. Itu dikatakan bahwa jika kalian takut untuk memberikan sesuatu kepada orang lain merasa khawatir jika apa yang mereka miliki akan berkurang atau bahkan habis maka menurut kedua mufassir tersebut Allah menilai sebagai pelit terpelit kecuali orang-orang yang diberi petunjuk dan hidayah. Pada dasarnya manusia itu pelit orang yang tidak pelit adalah orang yag diberi hidayah dan pertolongan.
Asbabun Nuzul: Dulu ada seorang pemuda yang hidup sendiri tidak punya keluarga dan tidak punya apa-apa, orang tersebut merasa khawatir terhadap apa yang mau dibelanjakan dan pemuda itu putus asa dari rahmat Allah, ketika itu banyak tetangga dan para sahabat membelanjakannya dan bersedekah melihat kenyatan yang seperti itu pemuda tersebut merasa minder.
Analisis Penulis: Pada ayat ini Allah SWT menerangkan sebab-sebab kenapa Allah tidak memperkenankan permintaan-permintaan orang-orang lalim itu, yaitu kalau Allah memperkenankan permintaan mereka itu maka mereka tetap berlaku kikir, tidak mau memberikan sebagian kecil kepada orang lain yang memerlukannya, karena mereka takut akan lenyap dari mereka kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh itu. Padahal nikmat Allah itu tidak akan habis-habis walaupun betapa banyaknya diambil oleh manusia.
Sifat kikir itu adalah watak dan tabiat manusia. Dengan watak dan tabiat yang tidak baik itulah yang menyebabkan manusia mendurhakai perintah-perintah Allah dan enggan memperhatikan larangan-larangan Nya.
Apabila firman Allah berbicara tentang sifat-sifat manusia dengan lafadz “ kana “ maka yang dimaksud adalah maka yang dimaksud adalah menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bagi mereka sudah merupakan garizah (naluri) dan tabiat yang tertanam dalam jiwa. Abu bakar razi telah mengkaji dengan seksama menggunakan lafadz “kana” dalam Al Qur’an menyimpulkan makna-makna yang terkandug dalam penggunaanya itu.
Asbabun nuzul surat Al-Ma’arij. ( Tafsir Jalalain )
Ibnu abbas r.a telah mengatakan bahaw orang yang meminta agar azab ditirunkan adalah An nadhr ibnul Harits. An nadhr mengatakan “ Ya Allah, jika seandainya Al Qur’an adalah benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit “
As saddi telah menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan di Makkah berkenaan dengan peristiwa An nadhr ibnul Harits karena sesungguhnya ia telah mengatakan, sebagaimana telah disitiroleh firman-Nya :
‘ Ya Allah, jika betul ( Al Qur’an ) ini, adalah benar dari sisi engkau…’ ( Q.S Al Anfal : 32 )
Azab yang dimintanya itu menimpanya pada waktu perang Badar ( yakni dia mati terbunuh )
Al Ma’arij : 19 – 21
“ sesungguhnya manusia diciptalan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkaluh kesah; dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir “
Tafsir Al-Azhar.
“ Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah “
Keluh kesah berarti tidakmempunyai ketenangan hati, selalu merasa cemas, gelisah dan kekurangan. Beberapa penyakit jiwa juga akan ikut menyertainya.
“ bila disentuh akan dia oleh suatu kesusahan dia pun gelisah”
Bila ditimpa susah, dia tidak dapat mengendalikan diri. Dia menjadi sangat menyesali nasib atau menyalahkan orang lain. Maunya harus ‘ tau beres’ saja, tidak mau diganggu sedikitpun.
Sedang pada ayat ke-21. mengartikan dia mendinding diri, tidak mau dihubungi orang lain, dia mencari 1000 macam akal untuk mengelak kalau ada yang akan datang meminta pertolongan.
Tafsir Al mishbah.
Thabathaba’i mengomentari ayat 19-21 adalah bahwa keinginan manusia meraih segala sesuatu yang merupakan potensi manusiawi yang dilekatkan Allah pada manusia, bukannyakeinginan untuk meraih segala sesuatu baik atau buruk berguna atau tidak, tetapi keinginan meluap untuk meraih kebaikan dan manfaat. Bukan juga keinginan meluap untuk meraih kebaikan dan manfaat baik berkaitan dengan dirinya maupun orang lain melainkan apa yang dinilainya baik dan bermanfaat untuk dirinya.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Selain itu sifat dan cirri tetapnya yang lain adalah sangat kikir, dia menganggap apa yang dia dapat adalah berkat jerih payahnya sendiri lantas dia menjadi seorang yang kikir dan memonopoli kekayaan itu untuk dirinya sendiri.
Al Ma’arij ayat ke 22 sampai 23
“ kecuali para yang shalat yang mereka itu menyangkut shalat mereka tetap bersinambung “
Tafsir Al mishbah.
Pengecualian ini mengesankan bahwa sifat-sifat yang disebut sebelumnya adalah sifat-sifat buruk yang tidak disandangoleh orang-orang mukmin. Thabathaba’i memahaminya berhubungan dengan ayat ayat sebelumnya secara langsung, hanya saja ulama ini menegaskan bahwa pengecualian orang yang melaksanakan shalat dan lain lain bukan berarti bahwa mereka tidak dilengkapi dengan naluri itu, hanya saja mereka menggunakan sesuai dengan tuntutan Allah.
Tafsir Al-Azhar.
Ini menyatakan bahwa hanya orang yang sembahyang saja yang dapat menyembuhkan diri dari rasa gelisah itu. Orang sembahyang dapat bebas dari penyakit yang berbahaya itu. Sebab dengan sembahyang sekurang-kurangnya lima waktu dalam siang dan malam, ditambah lagi sembahyang sunnah yang lain, maka jiwanya tak akan ada lagi gelisah. Sebab dia berangsur mandekat pada Allah. Diluar sembahyang itupun dia tetap sembahyang, artinya dia tetap ada hubungan antara jiwanya dngan Allah.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Adapun sifat kekekalan yang dikhususkan untuk shalat disini, “ mereka tetap mengerjakan shalat “ memberikan gambaran tentang keajegan dan keberlangsungannya. Maka shalatnya ini adalah shalat yang tak terputus oleh rasa sembrono atau malas. Dengan keajegan menunaikan shalat ini, berarti dia terus menerus berhubungan dengan Tuhan.
Al Ma’arij ayat 24 sampai 26
“ dan orang-orang yang dalam harta mereka ada hak tertentu, bagi yang meminta dan yang tidak mempunyai apa-apa dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan “
Tafsir Al mishbah.
Ulama’ memahami makna zakat haqqun ma’lum dalam arti zakat, karena zakat adalah kewajiban yang ditetapkan sendiri oleh yang bersangkutan ( selain zakat ) dan yang mereka berikan secara suka rela dan jumlah tertentu kepada fakir miskin. Maka pendapat yang kedua ini lebih menonjol sifat terpujinya.
Tafsir Al-Azhar.
Diantara yang diperintahkan Allah sesudah perintah sembahyang adalah menyediakan sebagian dari harta mereka untuk membantu orang-orang yang perlu dibantu. Baik zakat perternakan, pertanian ataupun kekayaan.
“ untuk orang yang meminta dan yang tidak punya apa-apa”
Maksud yang meminta disini adalah baik petugas pemungut zakat, atau orang yang sudah terdesak ( punya hutang ) tidak ada tempat dia mengadu lagi kecuali pada yang lebih mampu. Atau penuntut ilmu yang kekurangan biaya.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Yaitu zakat secara khusus dan sedekah-sedekah yang dimaklumi ukurannya, yang merupakan hak pada orang-orang mukmin. Atau mungkin maknanya lebih besar daripada ini. Yaknimereka menjadikan bagian tertentu pada hartanya karena mereka merasa bahwa itu adalah hak orang miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak. Tindakan ini terlepas dari sifat kikir dan kebebasan dari sifat rakus.
Al Ma’arij ; 27 – 28
“ dan orang-orang mereka itu – terhadap siksa Tuhan mereka- sangat takut. Sesungguhnya siksa Tuhan mereka, tidaklah aman “
Tafsir Al mishbah.
Akhir ayat yang lalu menggambarkan kepercayaan mereka terhadap adanya hari pembalasan yahkni hari kiamat. Pembalasan pada hari itu dapat merupakan pemberian sanksi dan jug adapt perolehan ganjaran. Kaum beriman itu dilukiskan oleh ayat diatas sebagai orang-orang yang sangat takut kepada jatuhnya sanksi, yakni tidak menonjol dalm perolehan nikmat. Menegaskan bahwa tidak ada seorangpun dapat memperoleh jaminan keselamatan dari siksa Allah. Sayyidina Umar pernah berkata : “seandainya ada pengumuman bahwa yang masuk neraka hanya seorang, maka aku khawatir akulah dia”.
Tafsir Al-Azhar.
Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi yang sebelumnya telah menjelaskan bagaimana ngeri dan seramnya azab Tuhan di hari itu. Beliaupun ngeri memikirkannya, beliaupun takut akan berbuat apa yang dilarang Allah dan diapun taat mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Rasulullah SAW orang yang tiada bandingannya tentang kedekatannya kepada Allah dan mengetahui bahwa Allah telah memilih dan memeliharanya, selalu merasa takut terhadap azab Allah. Beliau yakin bahwa amalan beliau saja tidak dapat melindunginya dan memasukkanya ke surga kecuali dengan karunia dan rahmat-Nya.
Al Ma’arij ayat 29 sampai 35
“ dan orang-orang yang mereka itu menyangkut kemaluan mereka adalah pemelihara-pemelihara kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidaklah dicela. Barang siapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah pelampau-pelampau batas. Dan orang-orang yang terhadap amanat-amanat mereka dan perjanjian mereka adalah pemelihara-pemelihara(nya) dan orang-orang yang mereka itu terhadap kesaksian mereka adalah penegak-penegak(nya) dan orang-orang yang mereka itu menyangkut shalat-shalat mereka selalu memelihara(nya). Mereka itulah di surga lagi memuliakan “
Tafsir Al Mishbah.
Setelah ayat-ayat yang lalu menyebut beberapa sifat yang berfungsi memelihara sekaligus menghiasi jiwa seseorang, kini ayat di atas menyebut beberapa sifat yang intinya adalah menghindarkan keburukan. Ayat diatas menjanjikan surga dan memuji orang-orang yang mereka itu baik laki-laki maupun perempuan, yakni secara mantap tidak menyalurkan kebutuhan biologis melalui hal dan dengan cara yang tidak dibenarkan agama.
Tafsir Al-Azhar.
Dalam ayat ini disebut bahwa salah satu ciri tanda orang yang beriman ialah menjaga dan tidak mempergunakan kehormatannya dengan salah. Sudah jadi salah satu dari syarat menjaga hidup manusia di atas dunia adalah apabila dia mengatur hubungannya dalam ikatan pernikahan.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Islam menghendaki masyarakat yang suci, bersih, indah dan transparan. Al Qur’an menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak yang diperoleh dengan cara yang ditetapkan syara’ dan diakui islam. Yaitu, budak yang diperoleh sebagai tawanan dalam perang fi sabilillah. Hanya jalan peperangan inilah satu-satunya diakui oleh islam.
ANALISA PENULIS
Semua manusia mempunyai sifat keluh dan kesah dan kikir. Kecuali orang-orang yang Allah kecualikan, yakni orang-orang yang shalat. Namun disisi lain bukan berarti mereka yang shalat tidak punya sifat tersebut, melainkan tetap memiliki hanya saja kadarnya kegalisahannya yang berbeda. Bagi mereka yang shalatnya benar-benar khusyu’ sehingga diluar shalatpun mereka tatep mengingat Allah maka mereka dapat mengendalikan kegelisahannya.
Pada ayat 24 sampai 26 menggambarkan keharmonisah hubungan antara sesame manusia terutama pada kaum yang lemah. Namun pada akhirnya, sebaik apapun manusia dimata sesama manusia, tidak dapat menjamin dia selamat dihari pembalasan nanti.
Sedangkan pada ayat 29 sampai 35 adalah juga sifat bagaimana cara menghindarkan keburukan. Yakni dengan cara menyalurkan kebutuhan biologis melalui pasangan yang syah ( istri ) atau dengan budak yang mereka miliki. Sebagaimana atas amanat yang dipikulkan pada mereka, memelihara waktunya hingga terlaksana tepat pada waktu yang telah ditetapkan serat memelihara rukun, wajib, dan sunnah-sunnahnya Dan Allah menjanjikan syurga bagi mereka yang mampu menjaga kehormatannya. Namun berbeda jika yang terjadi adalah sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi 30. Semarang :Toha Putra. 1993
Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi. Tafsir Ibnu Kasir Juz 15. Bandung : Sinar Baru Algensindo. 2003
Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Tafsir jalalain. Bandung : Sinar Algensindo. 2008
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Volume 7. Jakarta : Lentera Hati. 2007
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta : Lentera Hati. 2002
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 12. Depok : Gema Insani. 2006
Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 7. Depok : Gema Insani. 2003
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar. Jakarta : Pustaka Panjimas. 2004
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Volume 15. Jakarta : Lentera Hati. 2007
Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Tafsir Jalalain. Bandung : Sinar baru Algesindo.1999
Langganan:
Postingan (Atom)